 Judul lakon: Sie Jin Kwie Naskah: Tio Keng Jian & Lo Koan Chung Diadaptasi oleh N. Riantiarno Sutradara: N. Riantiarno Tahun: 2010 (5 s.d. 21 Februari 2010) Tempat: Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta Pusat Durasi: 240 menit
Menonton pentas Teater Koma telah menjadi agenda tahunan saya. Rasanya sih sejak sepuluh tahun terakhir, saya selalu menyempatkan diri menyaksikan pertunjukan teater yang dipimpin oleh N. Riantiarno ini. Lantaran kebiasaan itu, jadi terasa ada yang kurang jika terpaksa harus melewatkannya. Padahal ya sudah hapal dengan gaya pementasan mereka, namun entah kenapa selalu ada semacam kerinduan untuk menyaksikannya setahun sekali.
Sie Jin Kwie, demikian judul lakonnya kali ini yang merupakan produksi ke-119. Bukan main! Tentu menjadi prestasi tersendiri bagi sebuah kelompok teater di negeri yang masyarakatnya lebih suka nonton bola ketimbang nonton kesenian ini. Pastilah butuh kerja keras dan kecintaan yang besar untuk memanjangkan nyawanya. Salah satu caranya mungkin dengan menggaet perusahaan rokok sebagai sponsor. (Bagi perusahaan rokok itu hitung-hitung sebagai penyeimbang agar tidak melulu mensponsori acara-acara olah raga. Sesekali bolehlah jadi donatur kegiatan olah jiwa.)
Sie Jin Kwie atau Sie Jin Kui adalah sebuah cerita silat Tiongkok Klasik yang sangat populer; ditulis pertama kali pada zaman Dinasti Yuan (abad ke-14). Di Hindia Belanda, kisah ini terbit pada 1894. Lalu, pada 1952 dimuat sebagai cerita bersambung dalam bentuk komik di Majalah Star Weekly. Komikusnya adalah Siauw Tik Kwie alias Oto Suastika. Konon, Sie Jin Kwie yang memiliki nama kecil Xue Li ini adalah seorang jenderal perang dari Dinasti Tang yang berhasil memetik kemenangan dalam Perang Korea pada abad ke-7. Pahlawan ini dikenal sebagai jenderal yang selalu mengenakan busana perang warna putih dan bersenjatakan tombak bercabang tiga (trisula). Sebuah lakon yang tepat untuk merayakan Imlek. Sebelumnya, Teater Koma juga telah pernah beberapa kali memanggungkan kisah Tiongkok Klasik lainnya, di antaranya Sampek Engtay dan Opera Ular Putih.
Pertunjukan ini memakan waktu 4 jam. Itu pun sudah diringkas dengan menyiasatinya melalui adegan Wayang Tavip, wayang berwarna hasil kreasi Tavip S.Sn. Jika selama ini kita wayang (yang artinya bayangan) sebagai sebuah bentuk pertunjukan boneka melalui layar yang menampilkan bayangan hitam pada layar puith, maka dalam Wayang Tavip bayangan yang muncul di layar adalah wayang berwarna seperti aslinya. Buat saya, ini menjadi pengalaman pertama menonton Wayang Tavip. Sangat menarik. Apalagi ditambah cara Budi Ross mendalanginya.Sungguh menghibur, menjadi semacam goro-goro.
Seandainya tidak ada adegan wayang itu, menurut perkiraan Riantiarno, pertunjukan baru akan usai setelah 7 atau 8 jam. Bayangkan! Penonton baru akan pulang jam 4 pagi. Persis seperti nonton wayang kulit di kampung-kampung. Empat jam saja tetangga di kursi sebelah saya sempat tertidur pulas sepanjang setengah pertunjukan. Entah karena bosan atau memang tak suka teater. Atau bisa jadi, sebelumnya dia habis begadang dikejar deadline. :D
Seingat saya, siasat dengan wayang ini bukan baru pertama kali dilakukan oleh Teater yang lahir pada 1 Maret 1977 ini. Lakon Opera Ular Putih, Semar Gugat, dan Republik Bagong juga menggunakan adegan wayang di beberapa bagiannya.
Setiap menonton pementasan, apa pun itu, saya senang memilih tempat di barisan depan. Tujuan saya sih agar bisa mengambil gambar dengan posisi terbaik (dekat dengan panggung) mengingat kamera saya cuma kamera saku sederhana 12 MP dan 4 x optical zoom. Rasanya senang sekali jika berhasil mendapatkan hasil yang bagus. (Bagus menurut saya, tentu). Dan pentas Teater Koma yang umumnya sangat meriah dengan kostum dan seting panggung colour full, menjadi daya pikat tersendiri sebagai sebuah objek pemotretan.
Jelas, kali ini pun Teater Koma kembali hadir dengan tata panggung yang megah dengan dominasi warna merah dan emas. Demikian pula busana para pemainnya yang dirancang oleh Rima Ananda, berhasil memboyong suasana Tiongkok Klasik ke atas panggung. Plus dukungan ilustrasi musik garapan Idrus Madani serta penata rias & rambut Sena Sukarya. Sentuhan artistik dan pencahayaan yang baik menambah hidup suasana cerita.
Lalu, bagaimana dengan akting para pemainnya? Standar saja sih, tidak ada yang tampak benar-benar menonjol. Rangga Riantiarno sebagai Sie Jin Kwie bermain biasa-biasa saja. Yang kelihatan agak istimewa malah aktor kawakan Budi Ross yang berperan sebagai dalang, terutama saat ia membawakan narasi.
Tidak terlalu banyak yang baru memang, namun tentu saya selalu berharap bisa kembali menikmati pertunjukan teater ini tahun berikutnya. Sampai jumpa!***
Catatan:
foto-foto bisa dilihat di facebook-ku.

 | Category: | Books | | Genre: | Science Fiction & Fantasy | | Author: | Dan Brown |
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno Penyunting: Esti B Habsari & Andityas Prabantoro Penerbit: Bentang Pustaka CetakanL: I, 2010 Tebal: 712 hlm
Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Bersama si ahli simbologi lajang, Profesor Robert Langdon, saya kembali menelusuri misteri ruangan-ruangan bawah tanah yang menyimpan bukan saja keindahan tetapi juga sejarah menakjubkan. Kali ini, Langdon membawa kita mengungkap rahasia Gedung Capitol di Washington, DC, Amerika Serikat.
Ada apa gerangan di balik kemegahan mahakarya Gedung Capitol itu? Tentu tidak akan saya sampaikan di sini agar kau membacanya sendiri. Saya hanya akan menceritakan betapa buku ini akan kembali membawamu pada sebuah petualangan penuh keajaiban di balik simbol-simbol kuno serta sihir ilmu pengetahuan. Menurut saya, novel-novel Dan Brown, bukan sekadar menyajikan ketegangan dan horror, tetapi juga ilmu pengetahuan. Jadi rasanya karya-karyanya bisa digolongkan juga ke dalam genre science fiction.
Bagi engkau yang telah membaca dua buku sebelumnya (The Da Vinci Code dan Angels and Demons), akan berjumpa kembali dengan sang jagoan: Robert Langdon dengan bidadari pendampingnya, Katherine Solomon, dalam sebuah thriller yang berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Robert Langdon berupaya membongkar sebuah rahasia yang menyelubungi perkumpulan kaum Mason yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan ternyata George Washington dan Benjamin Franklin pernah menjadi anggotanya.
Sudah tentu, dalam usaha mengungkapnya, Langdon menemui banyak kendala. Dia harus berhadapan dengan seorang penjahat sadis yang tak segan-segan membunuh demi mendapatkan yang diinginkannya. Salah satu korbannya adalah sahabat terbaik Langdon, Peter Solomon, salah seorang anggota terhormat Freemasonry. Nyawa Peter terancam dan hanya Langdonlah yang mampu menyelamatkannya. (Ya iyalah, secara dia jagoannya :D).
Maka, sebagaimana The Da Vinci Code, Brown mengajak kita menggali misteri seputar Piramida Mason, simbol agung yang menyimpan sebuah “Kata” yang hilang. Dengan piawai, Brown menyingkap lapis demi lapis kisahnya dalam tempo cepat. Setiap babnya selalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memaksa kita membuka halaman berikutnya demi menuntaskan rasa penasaran. Brown memang ahlinya meramu misteri dan ketegangan. Deskripsinya tentang satu subjek sangat detail tanpa terjerumus menjadi “kuliah” ilmiah yang membosankan. Saya dibuat tercengang setiap kali sebuah selimut misteri tersibak. Sudah pasti, novel yang semula hendak diberi judul The Solomon Key ini dibuat melalui sebuah riset yang serius.
Salah satu daya tarik dari buku-buku Brown adalah keberaniannya menghadirkan fakta sejarah dalam versi yang berbeda yang hasilnya kerap menimbulkan kehebohan dan pro-kontra di kalangan pembacanya. Bagi saya, terlepas dari semua kontroversinya, sangat menikmati suguhan kisahnya tentang benda-benda dan artefak kuno yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya seakan-akan tengah diajak tamasya ke sebuah museum yang penuh berisi karya seni agung lengkap dengan kisah-kisah menakjubkan di sebaliknya. Entah itu hanya sekadar hasil imajinasi Brown atau memang fakta sebenarnya, saya tak lagi terlalu peduli.
Agak sedikit berbeda dengan The Da Vinci Code, The Lost Symbol tidak lagi menampilkan kejahatan konspirasi. Penjahatnya hanya seorang dengan motif balas dendam. Dan dalam urusan tegang-tegangan, Angels and Demons masih jauh lebih mencekam. Saya ingat betul, selama membaca novel itu pada malam hari, berulang kali saya menengok ke jendela, merasa seram dan ngeri sendiri seakan-akan penjahat dari novel tersebut bisa muncul di kamar saya sewaktu-waktu. Hiiiiy….
Tetapi, sebagai sebuah bacaan setebal 712 halaman, The Lost Symbol sangat menghibur, terutama pada bagian akhirnya yang tidak terduga.***

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Sanie B Kuncoro |
Penyunting: Imam Risdiyanto Penerbit: Bentang Pustaka Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: 375 hlm.
Perempuan. Makhluk yang konon diciptakan dari seruas tulang rusuk pria ini memang selalu menarik untuk dibincang, ditulis, dibahas, ditelanjangi (pakai tanda petik, ya). Dan mungkin yang paling tepat melakukannya adalah perempuan itu sendiri. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang hanya dimiliki dan dialami oleh perempuan. Misalnya, keperawanan. Siapa yang lebih paham tentang “rahasia besar” ini kecuali para perempuan?
Apakah hari ini isu keperawanan masih memiliki arti penting? Bisa jadi ya, setidaknya dalam novel perdana Sanie B Kuncoro ini. Novel dengan seting sebuah daerah di Jawa Tengah ini, bertutur ihwal empat orang gadis dalam memandang dan menyikapi makna keperawanan. Bagi Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey, keperawanan bisa menjadi sebuah anugerah atau justru malapetaka.
Siapakah sebenarnya yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan seorang perempuan? Mestinya, perempuan itu sendiri sebagai pemilik yang sah. Namun, pada kenyataannya, sering kali seorang atau banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang (mungkin) paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan. Umpamanya, yang dialami Ranting.
Gadis miskin ini menghadapi dilema. Ia harus melunasi utang puluhan juta untuk biaya operasi ibunya. Ranting, karena kemiskinannya, tak punya banyak pilihan. Jika hanya mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), seumur hidupnya pun utang itu tak akan pernah terbayar. Tetapi, dia juga tidak mungkin membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Sementara itu, ada seorang lelaki yang menawarkan jalan keluar: bersedia membayarkan utangnya asalkan Ranting mau dijadikan istri ketiga. Sungguh pilihan yang sulit.
Tak jauh dari Ranting, ada seorang gadis lain yang mengalami nasib nyaris serupa. Gadis itu, Gendhing, berada pada kondisi sosial ekonomi yang hanya sedikit saja di atas Ranting. Berkat kerja keras orang tuanya–ayahnya tukang becak dan ibunya kuli cuci pakaian–Gendhing agak lebih beruntung ketimbang Ranting karena bisa menyelesaikan SMA-nya sehingga ia bisa bekerja di salon milik majikan ibunya sambil terus mencari peluang kerja yang lebih baik.
Celakanya, sebelum sempat mewujudkan cita-cita, Gendhing terbentur sebuah masalah. Seperti Ranting, ia pun terpaksa pasang badan untuk menyelamatkan orang tuanya dari belitan utang. Lagi-lagi, solusi yang disodorkan pada seorang perempuan yang terjepit adalah sebuah barter pelunasan utang dengan penyerahan dirinya, entah sebagai istri kesekian atau sekadar “simpanan”.
Dalam kasus Ranting dan Gendhing, akar masalahnya adalah kemiskinan. Kedua gadis ini sadar betul tubuh perawan mereka memiliki nilai jual yang tinggi. Pada para lelaki yang terobsesi tidur dengan para perawan, Ranting dan Gendhing menemukan pembeli yang bersedia membayar mahal. Terjadilah sebuah transaksi dan saat itu keperawanan hanyalah sebuah komoditi.
Lain halnya dengan Tawangsri dan Zhang Mey. Kedua wanita ini barangkali jauh lebih beruntung daripada dua sahabat mereka. Sri dan Zhang (mengapa bukan Mey?) tidak mesti bergulat dengan kemiskinan. Orang tua mereka berada pada level sosial ekonomi menengah atas. Sementara Ranting dan Gendhing harus bermandi keringat mengais rezeki, Sri dan Zhang menikmati dunia kampus tanpa harus memikirkan biayanya. Bagi Sri dan Zhang, tersedia lebih banyak pilihan, termasuk menentukan kepada siapa tubuh perawan mereka akan dipersembahkan. Mungkin untuk kekasih sebagai bukti cinta atau kepada suami di malam pengantin.
Pilihan Sanie pada tema “perawan” ini, mungkin berdasarkan pengamatannya terhadap sekitar. Penulis yang berumah di Solo ini, barangkali menemukan fakta bahwa keperawanan masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan atau pun (lebih-lebih) lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Di novelnya ini, Sanie mengambil latar budaya Jawa dan Cina, dua kultur yang sangat karib dengannya. Sebagi seorang peranakan Cina yang lahir dan besar di Solo, Sanie tentu sangat memahami persoalan-persoalan yang ia tampilkan, baik kultural maupun sosial ekonominya.
Dengan gaya menulisnya yang khas–romantis melankolis, sehingga kadang terkesan berlarat-larat dengan kalimat–Sanie mengurai kisahnya menjadi empat bagian inti yang masing-masing menceritakan keempat tokoh utamanya. Pembagian ini memudahkan pembaca mengikuti alur novel yang linier. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, cukup terwakilkan. Beberapa ungkapan dan dialog dalam kedua bahasa berhasil menghidupkan cerita. Untuk para pembaca yang tidak paham bahasa Jawa dan Mandarin, jangan khawatir, penulis langsung menerjemahkannya di situ juga, tak perlu repot-repot melirik catatan kaki. Alhasil, novel ini lumayan menarik untuk dicermati. Sangat perempuan. Banyak hal yang mengundang untuk didiskusikan lebih lanjut.
Terlepas dari kisah keempat dara tadi, saya pun masih sering “menemukan” pria (dan banyak!) yang mencari seorang calon istri perawan. Bagi mereka, ada semacam sebuah kebanggaan jika berhasil menjadi yang pertama memerawani perempuan yang menjadi istri mereka. Keperawanan juga menjadi bukti kesucian seorang perempuan. Seolah-olah para wanita “suci” ini benar-benar belum pernah tersentuh kulit lelaki dan sebaliknya, jika sudah tidak perawan berarti perempuan tersebut bermoral bejat. Dan kita tahu, stigma ini tidak berlaku buat para lelaki.
Ini hanya masalah kultur yang notabene hasil ciptaan manusia (baca: lelaki). Sejak dulu, para perawan sudah diposisikan sebagai korban. Lihat saja ritual-ritual agama kuno yang selalu menyajikan seorang perawan di altar sebagai persembahan kepada para dewa. Atau pada masa yang lebih moderen lagi, perawan-perawan kerap dijadikan upeti kepada para raja atau sebagai pampasan perang. Pada abad 21 ini, hal serupa masih berlanjut dalam kemasan yang sedikit berbeda. Terjadi pada perempuan-perempuan tak berdaya seperti Ranting dan Gendhing. Kalau begini, sebuah anugerah atau bencanakah menjadi seorang perawan? Ternyata, tak semata-mata soal pilihan.***

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Jean Webster |
Penerjemah: Ferry Halim Penyunting: Ida Wajdi Penerbit: Atria Cetakan: I, 2009 Tebal: 235 hlm.
Daddy long legs dalam bahasa Inggris adalah sebutan untuk laba-laba berkaki panjang. Namun, oleh Jerusha Abbott, kata tersebut ia pakai untuk menjuluki seorang pria budiman yang telah menyantuninya bersekolah di perguruan tinggi. Pria baik hati itu hanya mensyaratkan Judy (nama kecil Jerusha) menulis laporan kemajuan studinya dalam bentuk surat setiap bulan. Sebuah syarat yang sangat mudah, apalagi bagi seorang gadis yang memang senang menulis seperti Judy. Maka, gadis yatim piatu itu pun meninggalkan Panti Asuhan John Grier setelah selama delapan belas tahun menjadi penghuni di dalamnya.
Kisah yang sesungguhnya pun dimulai, dari awal hingga akhir semua tersaji dalam bentuk surat Judy kepada Daddy Long Legs. Dengan gaya tulisan yang menyenangkan, Judy bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya selama menjadi mahasiswa: pelajaran-pelajarannya, teman-teman, liburan, buku-buku, cowok-cowok, dan apa saja yang dipikirkannya. Ia menulis seolah-olah bercakap-cakap langsung dengan si pembaca suratnya. Ia menulis kejadian hari demi hari sehingga kau akan merasa seakan-akan tengah membaca sebuah buku harian seorang gadis yang periang, cerdas, dan penuh harga diri. Ceritanya cewek banget deh.
Meski tidak pernah berjumpa dengan Daddy Long Legs yang misterius itu, namun dalam hati Judy telah tumbuh benih-benih kasih sayang kepada lelaki yang–sesuai persyaratan–tidak pernah membalas surat-suratnya itu. Malah, diam-diam Judy telah menganggap sang tuan budiman yang minta dipanggil dengan nama Mr. John Smith ini sebagai ayah yang tidak pernah dimilikinya. Perasaan tersebut lama kelamaan menerbitkan harapan pada diri Judy suatu saat akan bisa berjumpa langsung dengan penolongnya tersebut.
Novel klasik karya Jean Webster ini terbit pertama kali di Amerika pada 1912. Ketika itu, tentu saja, surat masih menjadi pilihan utama sebagai alat komunikasi yang efisien setelah telepon, terutama jika kita harus menyampaikan sebuah laporan yang panjang pada seseorang yang berada jauh dari kita. Dan sekalipun novel ini berbentuk surat-surat, tetap menyenangkan membacanya. Segar, jenaka, dan kadang-kadang menyentuh hati. Jika kau pernah membaca Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery), kau akan menemukan spirit yang sama di dalamnya. Kau akan berjumpa dengan seorang gadis dengan karakter mirip Anne: cantik, cerdas, humoris, suka berkhayal, dan tidak pernah mengeluhkan nasib malangnya sebagai seorang anak yatim piatu.
Sejak kemunculannya, Daddy Long Legs terus memperoleh sambutan hangat dari khalayak pembaca, bahkan kemudian diangkat menjadi sandiwara panggung serta film layar lebar. Salah satunya yang cukup terkenal dibuat tahun 1955 dengan bintang Fred Astaire. Buku yang menarik ini layak dan aman dibaca oleh seluruh golongan umur. Dua tahun berikutnya, terbit buku lanjutannya: Dear Enemy. ***

 Dalam rangka memperingati Hari Ibu serta HUT TIM ke-41, pada 22 Desember 2009 silam, digelar pentas tiga monolog di Graha Bakti Budaya TIM yang bertema perempuan dan dibawakan oleh tiga orang perempuan. Tampil secara berurutan adalah Niniek L Karim menyajikan monolog berjudul "Mengapa Kau Culik Anak Kami". Naskah yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma ini bertutur ihwal seorang ibu yang kehilangan anak lelakinya dalam peristiwa Semanggi beberapa tahun lalu. Sang putra yang bernama Satria itu diculik oleh sekelompok orang dan sejak itu tidak pernah kembali lagi.
Sebagai penampil kedua adalah Lisa Ristargi. Perempuan muda bernama lengkap Yulisza Syahtiani ini mementaskan lakon bertajuk "Ipoh" karya Arthur S Nalan. Di bawah arahan sutradara Anto Ristargi, Lisa bermain kenes sebagai perempuan penjual kopi yang memiliki masa lalu yang kurang sedap dikenang. Karena kematian orangtuanya, Ipoh akhirnya dipelihara oleh paman dan bibinya. Sialnya, ketika beranjak remaja, Ipoh yang menjelma seorang gadis cantik, harus mengalami KDRT. Ia diperkosa pamannya sendiri dan ketika akhirnya menemukan jodoh, ternyata ia tertipu. Ia hanya menjadi istri kedua seorang pria berstatus guru. Dengan vokalnya yang nyaris melengking, Lisa sebagai ipoh berpesan kepada para perempuan, terutama para gadis, agar berhati-hati dan jangan mudah percaya pada rayuan lelaki hidung belang. Cukup hidup monolog yang dibawakan pemain asal Teater Cermin ini.
Dan yang ditunggu-tunggu penonton selanjutnya adalah Happy Salma. Si cantik nan seksi ini memerankan tokoh Srintil, ronggeng legendaris dari Dukuh Paruk. Cerita yang dipetik dari novel beken karangan Ahmad Tohari tersebut, sedikit diutak-atik oleh Agus Noor untuk penampilan Happy Salma malam itu. Di panggung, jadilah Happy Salma sebagai dirinya sendiri sekaligus Srintil yang malang. Terus terang, aku pribadi sedikit kecewa dengan naskah hasil tafsiran Agus Noor itu, karena aku sudah telanjur berharap dan membayangkan akan menonton sebuah pentas tentang Srintil sebagaimana dalam novelnya. Tetapi, tak mengapa. Akting Happy cukup menjanjikan, khususnya pada adegan erotis di balik tirai transparan yang berfungsi sebagai kelambu. Di balik "kelambu" itu, tubuh Happy yang lentur (dan seksi itu), meliuk-liuk indah dalam posisi membelakangi penonton, menggambarkan adegan percintaan Srintil dengan kekasihnya, Rasus. Scene yang keren.
Begitulah. Ketiga nomor monolog di atas, intinya ingin menyampaikan persoalan ketiadakadilan yang terpaksa diterima perempuan di negeri ini. Seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat kekerasan politik dan negara yang tidak becus melindungi warganya; seorang perempuan yang mengalami KDRT; serta seorang ronggeng yang menerima perlakuan kejam karena dituduh terlibat Lekra. Padahal, ia cuma seorang seniman rakyat yang mencoba mencari hidup sebagai ronggeng.
Khusus untuk Ronggeng Dukuih Paruk, mudah-mudahan tahun depan filmnya sudah bisa kita saksikan di layar lebar. Semoga tidak terjerumus menjadi sebuah film "panas" sebagaimana halnya "Darah dan Mahkota Ronggeng" (1990).
Oya, sayangnya aku kebagian duduk di kursi belakang, sehingga tak bisa mengambil foto dengan baik. Maklum, kameraku cuma kamera pocket dengan kemampuan terbatas. Foto Happy Salma yang ada di sini, kuambil dari brosur acara. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Leila S Chudori |
Penerbit: KPG Cetakan: I, Oktober 2009 Tebal: 270 hlm.
Sudah berabad-abad yang lalu rasanya ketika terkahir saya membaca cerpen Leila S Chudori, pengarang yang karya-karyanya turut mewarnai hari-hari remaja saya. Yang paling saya ingat itu cerpennya yang berjudul “Saya dan Apuy”, kalau tak keliru mengingat, pernah dimuat di majalah Gadis. Masih di majalah yang sama, Leila pernah juga menulis sebuah cerita bersambung: “Seputih Hati Andra”. Kedua kisah fiksi ini bertutur seputar dunia remaja dan gejolaknya.
Bertahun kemudian, saya sempat kehilangan penulis ini. Baru pada sekitar awal 90-an, saya “menemukannya” kembali lewat Malam Terakhir. Di buku kumpulan cerpennya ini, saya mendapati dirinya yang mulai beranjak dewasa. Kisah dalam cerpen-cerpennya, bukan lagi kisah cinta monyet anak-anak baru gede, tetapi mulai merambah dunia sosial politik. Leila mulai kritis memandang yang terjadi di masyarakat. Umpamanya, ihwal hak mengeluarkan pendapat yang terpasung (“Pasien Dokter Gigi Yos”).
Lalu, kembali saya kehilangan jejaknya. Sebenarnya sih ia tak hilang, karena masih sering saya dapati tulisan-tulisannya di majalah Tempo berupa artikel, berita, atau ulasan buku dan film. Katanya, ia masih suka menulis cerpen juga yang dimuat di majalah Matra. Tetapi karena saya tidak membaca majalah tersebut, praktis saya tidak mengikuti lagi cerpen-cerpennya.
Dan pada 2006, ia muncul kembali melalui skenario drama televisi yang ditulisnya, Dunia Tanpa Koma. Sinetron serial yang diperankan oleh bintang jelita, Dian Sastrowardoyo ini, menampilkan kisah seputar dunia wartawan, dunia yang digeluti Leila hingga hari ini.
Tiga tahun berikutnya, lahirlah 9 dari Nadira, sebuah novel unik yang terdiri dari 9 fragmen yang bisa saja dibaca secara sendiri-sendiri sebagaimana halnya cerpen. Maksud saya, setiap babnya merupakan satu cerita yang seolah-olah berdiri lepas walaupun pada akhirnya membentuk sebuah novel yang utuh.
Agak mirip dengan Dunia Tanpa Koma, 9 dari Nadira pun bercerita tentang seorang gadis yang berprofesi sebagai wartawan majalah berita mingguan. Tak jauh-jauh dari kehidupan penulisnya. Malah, tokoh utamanya, Nadira, bisa jadi adalah perwujudan Leila muda. Mereka sama-sama wartawan, sekolah di Kanada, menulis cerpen, dan sama-sama anak ketiga dari seorang ayah yang juga wartawan. Tak heran kalau Nadira bisa menjelma begitu hidup dalam novel ini. Leila seperti sedang menulis tentang dirinya sendiri.
Dasar memang penulis berbakat, kendati telah lama tak mengarang fiksi, tulisan Leila tetap saja memikat dan menjadikan novel ini sebuah kisah realis dengan tokoh-tokoh yang sangat manusiawi. Semua karakternya tampil wajar ibarat aktor dan aktris yang berakting natural. Mereka begitu hidup dan “sempurna” sebagai seorang manusia biasa yang memiliki sisi gelap dan terang. Nyaris antihero. Jenis kisah yang saya sukai.
Satu lagi yang patut mendapatkan pujian dari saya adalah ilustrasi keren, termasuk desain kovernya, yang dibuat oleh Ario Anindito. Gambar-gambarnya telah membuat penampilan buku ini semakin menarik, terutama pada bab “Sebilah Pisau”. Meskipun bab ini, menurut saya, tidak perlu ada karena hanya mengulang penceritaan sosok Nadira dari angle Kris, ilustrator majalah tempat mereka bekerja, tetapi menjadi menarik lantaran ilustrasinya. Sebelumnya, tokoh Kris belum pernah muncul dan setelahnya juga tidak pernah diceritakan lagi. Jadi, seandainya bab ini tidak ada, ya juga tidak apa-apa. Tidak akan memengaruhi keseluruhan kisah. (Eh, tapi nanti judulnya jadi 8 dari Nadira dong, ya? :D)
Sejatinya, 9 dari Nadira adalah sebuah roman cinta yang berujung tidak bahagia. Karakter Nadira cenderung murung, pendiam, dan rapuh. Apalagi setelah kematian ibu yang sangat dicintainya. Praktis, kehidupan bagi Nadira menjadi kian suram dan senantiasa mendung. Tara, bos yang diam-diam memendam cinta padanya, tak bisa berbuat banyak. Hubungan dengan Nina, kakak sulungnya, juga telah lama mendingin. Sementara, kakak lelakinya, Arya, memilih hidup di hutan. Tinggallah Nadira dengan ayahnya, pensiunan wartawan yang menderita post power syndrome.
Ketika kemudian Nadira merasa menemukan cinta pada sosok Niko, ia lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Niko mengkhianati cinta mereka. Lalu, ke mana dan kepada siapa lagi Nadira mesti berpaling dan mendapatkan cinta yang sebenarnya? Atau memang sudah tak ada lagi cinta untuknya?
Ah, rupanya bagi Leila, cinta tak harus selalu manis dan penuh bunga seperti halnya komedi romantis Hollywood. Cinta juga bisa sangat pahit, getir, dan menyakitkan.***

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Judul film: Emak Ingin Naik Haji Sutradara: Aditya Gumay Skenario: Aditya Gumay (Adaptasi cerpen karya Asma Nadia) Pemain: Aty Kanser, Reza Rahardian, Didi Petet, Ninik L Karim, dll Produksi: Mizan Production Tahun: 2009
Menandai tibanya “musim haji” tahun ini, Mizan Production melepas sebuah film bernuansa agama berjudul Emak Ingin Naik Haji. Dibesut oleh Aditya Gumay, film yang diadaptasi dari cerpen karya Asma Nadia ini, menampilkan sebuah drama religi yang mengharukan.
Adalah seorang ibu yang akrab disapa Emak (Aty Kanser) oleh anak-anak dan para tetangganya, telah lama memendam hasrat ingin beribadah haji. Namun, bagi orang miskin seperti dirinya–untuk nafkah sehari-hari, Emak yang sudah lama menjanda itu berjualan kue apem–barangkali pergi ke Tanah Suci hanyalah sebuah impian di siang bolong. Ongkos naik haji (ONH) yang setiap tahun selalu naik itu–mungkin sekarang sekitar 30-40 juta–sangat jauh untuk dapat dijangkau oleh orang-orang kecil seperti Emak. Kalaupun akhirnya mampu, mereka kudu menabung dulu bertahun-tahun lamanya.
Demikianlah yang dialami Emak. Demi niat sucinya itu, Emak dengan tekun mengumpulkan setiap rupiah yang diperolehnya untuk tabungan ONH. Tetapi, baru saja terkumpul lima juta rupiah dari hasil menabung bertahun-tahun, cucunya mendadak sakit dan harus segera dioperasi. Emak yang selalu bersikap baik ini, dengan ikhlas merelakan tabungannya untuk kesembuhan sang cucu.
Hanya beberapa langkah dari pondoknya yang tua dan suram, tinggallah Haji Sa’un (Didi Petet) beserta istri (Ninik L Karim) dan keluarganya. Haji Sa’un adalah orang terkaya di kampung nelayan itu. Sebagai saudagar kapal dan besi tua, Haji Sa’un dan istrinya telah berkali-kali naik haji dan umroh. Baginya, ONH yang 40 jutaan itu tidak berarti apa-apa. Malah tahun ini, mereka sekeluarga berencana umroh bersama rombongan artis sinetron.
Cerita di atas, jika kita jeli, sebenarnya merupakan potret kehidupan nyata masyarakat kita. Sebuah kondisi yang memiriskan hati ketika seorang yang kaya raya bisa dengan gampangnya (seperti ke toilet saja) bolak-balik naik haji, sedangkan orang-orang kurang mampu sulit sungguh mewujudkan niat mulia tersebut. Semoga dengan tayangan tersebut, para haji yang sudah berulang kali ke Tanah Suci, bisa terketuk hati mereka untuk memberikan kesempatan berhaji kepada yang belum pernah. Toh, kewajiban berhaji itu hanya satu kali seumur hidup. Mudah-mudahan, pahalanya akan sama besar.
Seting cerita film ini di sebuah kawasan permukiman nelayan di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara yang mayoritas warganya adalah orang-orang Betawi yang sangat mengagungkan naik haji. Bagi masyarakat Betawi, sampai hari ini masih banyak yang beranggapan naik haji jauh lebih penting ketimbang sekolah tinggi. Hal ini pernah terjadi pada tetangga saya yang lebih mendahulukan pergi haji ketimbang membiayai kuliah anak perempuannya.
Peran orang (Betawi) miskin dimainkan dengan sangat baik oleh Aty Kanser. Aktingnya sangat natural. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta dialog-dialog yang diucapkannya, pas banget. Sebagai orang miskin–peran yang nyaris menjadi spesialisnya ini–Aty tampil begitu anggun dan terhormat. Dia tak pernah mengeluh atau menggerutui nasib malangnya. Di tengah-tengah kesulitannya, ia masih sanggup membantu tetangganya yang juga kesusahan. Sesungguhnya, dengan segala kebaikan budinya ini, Emak sudah jadi haji. Kemuliaan hatinya tercermin begitu saja dari sikap dan perbuatannya. Dia tidak menangis ketika menghadapi kenyataan impiannya untuk naik haji pupus. Malah jadinya saya yang mengucurkan air mata dan sibuk mencari-cari tisu. Hiks. Empat jempol dan empat bintang untuk Aty Kanser.
Didi Petet tak kalah keren berperan sebagai Haji Sa’un, orang Jawa yang menikah dengan perempuan Betawi dan hidup di tengah-tengah masyarakat Betawi. Yang agak kedodoran justru Ninik L Karim (ah, tumben banget!). Aktingnya kurang konsisiten. Di awal, ia cukup bagus memerankan orang Betawi dengan dialek khasnya. Tetapi, pada beberapa scene mendekati akhir film, malah keluar logat Jawanya yang kental itu.
Juga untuk casting Reza Rahardian yang bermain sebagai Zein, putra bungsu Emak yang lebih senang melukis ketimbang menjala ikan di laut, terasa kurang pas, terutama secara fisikli. Reza kelewat ganteng sebagai pemuda miskin (bukan berarti orang miskin nggak boleh ganteng, loh!). Kulit putihnya tampak kurang cocok sebagai orang yang berumah di pesisir, meskipun memang aktivitasnya sebagai pelukis lebih banyak dilakukan di dalam rumah, terlindung dari panggangan sinar matahari.
Oya, masih ada satu plot lagi: Pak Joko yang juga ingin naik haji. Berbeda dengan Emak dan Haji Sa’un, motivasi Pak Joko meraih gelar haji adalah untuk mendukung upaya pencalonan dirinya sebagai walikota. Di akhir kisah, ketiga plot ini bertemu.
Secara keseluruhan, film ini layak dinikmati. Selaku film religi, Emak Ingin Naik Haji, berhasil menyampaikan pesan moralnya tanpa menggurui. Penonton dibuat tersentuh oleh kisah dan karakter Emak sebagai tokoh utamanya. Penyutradaraannya cukup baik, kendati di beberapa bagian ada detail yang luput. Misalnya, rambut anak tetangga Emak yang miskin itu, tampak sangat sehat dan berkilau. Harusnya kan bisa dibuat lebih kusam dan kusut, layaknya anak-anak kekurangan gizi. Selebihnya, saya sangat merekomendasikan film ini, terutama untuk mereka yang ingin dan sudah berkali-kali naik haji agar, siapa tahu, bisa bercermin.***

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Dee |
Editor: Hermawan Aksan Penerbit: Bentang Pustaka Tebal: 456 hlm Cetakan: I, 2009.
Pertama kali mendengar judul novel Dee yang keempat ini, yang teringat oleh saya adalah judul buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang terbit tahun 1982. Saya kira tadinya Dee terinspirasi oleh puisi Sapardi tersebut. Tetapi, ternyata tidak. Malah tulisnya di halaman belakang, ilham itu datang setelah membaca cerita bersambung di majalah Hai yang bertitel “Ke Gunung Lagi” milik Katyusha, seorang penulis cerpen yang beken di era 80-an. Ya, cerbung itu pun ditulis pada tahun 80-an.
“Kelincahan dan keluwesan Katyusha menjadi daya tarik utama dari cerbung ‘Ke Gunung Lagi,’” begitu alasan Dee tentang keterpikatannya pada cerbung itu. “Namun, ada satu faktor lagi yang menjadi candu terkuat bagi saya: formatnya,” sambungnya. Yang ia maksud dengan format adalah cerita bersambung yang mirip cerita serial; mengikat pembacanya untuk terus mengikuti kisah tersebut dan senantiasa menerbitkan rasa penasaran.
Resep inilah yang kemudian dipakainya dalam menulis Perahu Kertas. Tidak sia-sia hasil “belajarnya” dari Katyusha. Dee berhasil meramu sebuah kisah cinta remaja yang lincah dan menghibur. Sangat jauh berbeda dengan novel debutannya, Supernova, yang “nglimiah” dan terlalu sarat beban itu. Pada Perahu Kertas, terasa Dee menulis dengan lebih lepas, merdeka, dan semakin matang. Hasilnya, sebuah dongeng yang renyah dan gurih yang memaksa saya untuk terus membuka lembar demi lembar halamannya. Seperti mengudap crispy snack bermuatan MSG. Enak tapi tak padat gizi. Atau kalau mau dibandingkan dengan film, ya layaknya drama komedi romantis yang mengandalkan dialog-dialog serta joke-joke yang cerdas dan segar. Dan jangan lupa, selalu happy ending.
Bagi saya, kelincahan dan keluwesan Dee mendongeng menjadi daya pikat utama Perahu Kertas. Sebab, temanya sih klasik: cinta. Percintaan dua anak muda perkotaan. Yang cewek penyuka dongeng, sedangkan cowonya seorang pelukis. Tetapi, Dee mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sajian kisah cinta yang legit dengan karakter utamanya, Kugy, yang unik dan menggemaskan. Kugy yang mungil, ceria, cerdas, dan agak urakan mengingatkan saya pada tokoh ciptaan Katyusha dalam cerbungnya yang lain: “Sebuah Makhluk Mungil” (yang konon telah mengilhami Hilman Hariwijaya menulis serial Lupus dalam episode “Makhluk Mungil dalam Bis”).
Jika niatan Dee untuk membuat sebuah kisah ala cerbung/serial yang tokoh-tokohnya tumbuh berkembang serta ceritanya membuat pembacanya penasaran (walaupun akhir kisah sudah bisa tertebak dari awal, tetapi kita membaca sebuah buku toh bukan sekadar ingin mengetahui ending-nya, kan?) dan ketagihan, rasanya bolehlah saya katakan Dee telah sukses meraih cita-citanya itu. Tetapi, ya hanya sebatas itu: sebuah novel (pop) yang menghibur. ***

 | Category: | Books | | Genre: | Travel | | Author: | Franz Wisner |
Penerjemah: Berliani M Nugrahani Penyunting: Anton Kurnia Penerbit: Serambi Cetakan: I, 2008 Tebal: 485
Setiap kali usai membaca sebuah buku catatan perjalanan, hasrat jalan-jalanku senantiasa bergelora kembali. Aku tidak yakin, apakah ada orang di planet ini yang tidak suka jalan-jalan, sebuah kegiatan yang bagiku amat menyenangkan dan selalu ingin kulakukan kembali. Andai saja aku punya uang dan waktu yang banyak, aku ingin keliling dunia seperti Trinity (The Naked Traveler), Nawal El Saadawi (My Travels Around the World), Sigit Susanto (Menyusuri Lorong-Lorong Dunia), atau Franz Wizner dalam Honeymoon with My Brother.
Dari keempat buku yang kusebut di atas, umumnya mengemukakan hal yang hampir sama. Keempat manusia yang suka jalan itu sama-sama menyoroti tempat dan objek wisata yang tidak umum, yang tidak tertera dalam buku panduan perjalanan sekelas Lonely Planet sekali pun. Para pengukur jalanan ini memiliki minat yang nyaris serupa tentang berkunjung ke tempat-tempat yang unik dan mendapatkan pengalaman yang unik pula dari tempat-tempat tersebut. Mereka menggali sesuatu yang lain dari setiap kunjungan mereka ke pelosok dunia.
Khusus dalam Honeymoon with My Brother yang konon kisahnya akan segera dilayarlebarkan, ceritanya tidak sekadar catatan perjalanan. Franz Wisner melengkapinya dengan kisah cintanya yang gagal total; yang menjadi awal mula perjalanannya kelililing bumi.
Jadi begini, semula Franz Wisner adalah seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan besar di Amerika: The Irvine Company. Ia memiliki segalanya sebagai seorang pria: penampilan fisik yang oke, pekerjaan dan karier yang mapan, keluarga yang selalu siap memberikan dukungan, sahabat-sahabat yang baik, dan tentu, seorang tunangan cantik yang tak lama lagi akan dibawanya ke altar pernikahan.
Namun, ternyata wajah tampan dan karier bagus, masih kurang cukup sebagai modal untuk menyeret seorang gadis ke dalam sebuah perkawinan. Setelah 10 tahun berpacaran dan hanya tinggal lima hari menjelang pernikahan, sang gadis, Annie, memutuskan untuk membatalkan pernikahan tersebut. Begitu saja.
Meski hatinya hancur lebur, tak ada yang mampu dilakukan Franz untuk menyelamatkan rencana agung tersebut. Ia terlalu gengsi–mungkin–kalau mesti memohon-mohon kepada Annie untuk membatalkan keputusannya.
Dan itu artinya, Franz harus juga membatalkan rencana perjalanan bulan madu mereka. Padahal semua telah siap. Tiket pesawat serta kamar hotel sudah dipesan, tinggal eksekusinya saja. Dan celakanya (oh, tapi kemudian Franz justru harus menyebut: dan untungnya…) semua itu tidak bisa dibatalkan. Maka, alih-alih membatalkannya, Franz kemudian malah mengajak adiknya, Kurt, untuk pergi berbulan madu bersamanya.
Perjalanan bulan madu inilah yang selanjutnya menjadi pintu masuk Wisner Bersaudara untuk menjelajahi sudut-sudut dunia selama 4 tahun sembari memperbaiki kembali hubungan kakak-adik mereka yang selama ini sempat mendingin seiring pertambahan usia keduanya.
Maka, jadilah Honeymoon with My Brother sebuah catatan perjalanan yang menarik dicermati. Di samping hal-hal unik tentang objek-objek yang mereka singgahi, Franz juga membumbui kisahnya dengan sentuhan emosional ihwal hubungannya dengan nenek, ayah ibu, para sahabat, serta terutama sang adik, Kurt Oscar Wisner, kepada siapa ia mempersembahkan buku ini (di halaman pembuka, dengan manis ia menulis: Untuk Kurt Ocsar Wisner, adikku, pahlawanku, dan sahabat baruku).
Bagian relasi kakak-adik ini mau tidak mau membawa ingatanku tentang hubunganku dengan adik-adikku yang kurasakan kini juga sudah tak seakrab dulu ketika kami kanak-kanak. Rasanya dulu aku selalu merasa rindu jika salah seorang dari ketiga adikku tidak tampak di rumah. Dulu, kami masih suka pergi ke mal atau nonton bareng. Tetapi saat kami sama-sama beranjak dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing, acara pergi bareng pun nyaris tidak pernah lagi dilakukan. Kami tentu lebih senang pergi dengan pacar atau teman-teman.
Apalagi sekarang, mereka, adik-adikku ini, sudah menikah. Untungnya semua masih tinggal di Jakarta, sehingga masih bisa berjumpa sedikitnya satu bulan sekali. Sayangnya, masa pertemuan itu pun tidak selalu bisa kuhadiri dengan alasan ngantor (konsekuensi bekerja di sebuah objek wisata yang kudu tetap ngantor di hari libur, hari keluarga. Hiks…)
Oops! Kok jadi curcol sih? Maaf ya . Baiklah, kita balik ke Franz lagi.
Intinya, ini adalah sebuah buku yang memikat. Sebuah kisah perjalanan yang dikemas seperti novel. Secara cerdik, Franz mengolah ceritanya menjadi bacaan yang gurih, lucu, dan menyentuh perasaan. Gurih, lebih kepada cara penyampaiannya yang segar dan mengalir. Lucu, terutama pada bagian-bagian yang mengisahkan tempat dan kejadian-kejadian unik yang mereka alami. Menyentuh, karena Franz berhasil menggugah perasaanku melalui penuturannya tentang Annie, LaRue, dan Kurt. Sayang banget mereka tidak menyertainya dengan foto-foto hasil jepretan Kurt yang tentu akan membuat buku ini lebih menarik.
Ngomong-ngomong, akan seperti apakah filmnya nanti? Mestinya sih akan jadi film tamasya yang bagus, ya?
Tapi yang pasti, seperti biasa, seusai membaca buku kisah perjalanan, hasrat jalan-jalanku jadi kambuh lagi. Jalan-jalan memang asyik. Apalagi jika tak harus patah hati terlebih dahulu. Yuuuk! ***

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Tina K |
Penerbit: KutuBuku Sampurna Cetakan: I, 2009 Tebal: 262 hlm.
Tina K baru kukenal sekitar dua tahun silam. Tetapi sesungguhnya, aku telah mengenal namanya jauh sebelum itu melalui cerpen-cerpen kerennya di majalah Anita Cemerlang. Kendati tak satu pun judul cerpennya yang berhasil kuingat dengan baik, namun fakta bahwa namanya tetap tertanam di benakku setelah sekian lama Anita menjadi almarhum, adalah bukti bahwa sebagai cerpenis remaja, nama Tina K sempat berkibar-kibar dan aku pernah menjadi penggemarnya.
Pernah? Barangkali lebih tepat jika kupakai kata “masih”, sebab sampai hari ini aku masih menyukai tulisan-tulisannya yang berciri riang, lincah, dengan menggunakan banyak percakapan sebagai pengganti fungsi narasi. Gaya penulisan seperti ini, berhasil menjadikan cerpen-cerpen Tina menyenangkan untuk dibaca. Ringan, segar, bernada optimis. Nyaris serupa menonton film-film komedi romantis Amerika. Apalagi ditunjang pula dengan tema-tema seputar masalah cinta: cemburu, cinta platonis, patah hati, kasih tak sampai.
Setelah sekian puluh tahun nyebur ke dunia penulisan fiksi, tahun ini akhirnya Tina K membukukan karya-karyanya dalam sebuah kumpulan cerpen bertajuk Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah. Selamat ya, Mbak Tina!
Seluruhnya ada 18 cerpen (cinta) dalam buku ini. Cerpen-cerpen yang sangat khas Tina. Kisah-kisah percintaan orang-orang kota. Tina memang tidak selalu menyebutkan seting ceritanya, tetapi dari detail-detail yang ditampilkan, menunjuk kepada sebuah suasana perkotaan: kantor di gedung-gedung tinggi, salon, kafe, nama-nama restoran, pertokoan, dan juga nama-nama tokohnya. Sayangnya, Tina tidak menyertakan tanggal penulisan masing-masing cerpennya, sehingga kita agak kehilangan jejak.
Aku menduga, sebagian besar cerpen dalam buku ini merupakan cerpen-cerpen lawas Tina. Itu bisa terlihat jelas dari (lagi-lagi) detail yang disampaikannya. Umpamanya, pada “Kunang-Kunang Malam” (hlm.215) yang masih menghadirkan becak sebagai angkutan umum di daerah Rawamangun. Pada beberapa cerpen yang lain, tampak ada upaya penyesuaian seting cerita dengan mengubah detail-detail tersebut. Misalnya, surat diganti dengan email.
Cerpen favoritku adalah “Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah” dan “Ignatius de Loyola”. Alasanku sederhana saja, lantaran tokoh kedua cerpen di atas seorang wanita lajang dewasa. Di kedua cerpen ini juga, Tina telah jauh lebih matang dalam penulisannya. Tokohnya bukan lagi gadis-gadis remaja yang gelisah karena cemburu atau menderita oleh cinta yang ditolak. Tokoh perempuan (lajang) dalam “Laki-Laki….” dan “Ignatius ..” adalah sosok mandiri, tegar, dan matang. Sejenak aku sempat menduga, jangan-jangan perempuan dalam kedua cerpen tersebut merupakan gambaran diri sang pengarangnya. Hehehe. Benar ga, Mbak Tina?
“Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah” bertutur secara menawan ihwal seorang perempuan single yang jatuh cinta kepada lelaki yang memakai wewangian beraroma rempah-rempah. Mereka berkantor di gedung yang sama. Mereka saling menyukai, namun ketika si lelaki melamar sang wanita, mendadak saja si cewek ini terserang rasa tak percaya diri. Benarkah sang jantan serius dengan lamarannya? Apa yang dilihat laki-laki itu pada dirinya yang – menurutnya – biasa-biasa saja itu? Ia bukanlah perempuan dengan tubuh seksi. Ia juga tidak memiliki kulit selembut bayi atau rambut hitam panjang tergerai layaknya para model shampoo. Bagaimana bisa pria itu jatuh hati padanya?
Di sini, Tina tampaknya sedang menyindir para lelaki (dan kita) yang pada umumnya setuju bahwa wanita cantik adalah bertubuh langsing, berkulit putih, dan berambut panjang terurai. Sebuah citra tentang cantik yang kerap dijejalkan oleh iklan produk-produk kosmetik di televisi dan majalah. Seolah tak ada tempat bagi perempuan di luar kategori tersebut untuk disebut cantik. Cantik itu langsing, bukan gemuk. Cantik itu putih, bukan hitam atau cokelat. Cantik itu lurus dan panjang, bukan keriting atau cepak.
Citra yang terus-menerus dicekokkan ke pikiran kita, pada akhirnya tanpa sadar telah membuat kita sepakat pada rumusan tentang cantik versi mereka itu. Dan celakanya, lalu banyak wanita yang ramai-ramai menyulap penampilan mereka demi memenuhi persyaratan fisik untuk bisa dibilang cantik. Kita jadi lupa, bahwa ada kecantikan lain yang berada di dalam diri kita: kepribadian (inner beauty).
“Ignatius de Loyola” lain lagi kisahnya. Kali ini, Tina mengangkat tema percintaan beda usia. Wanitanya jauh lebih tua dari pacarnya, seorang pemuda belia yang lebih pantas menjadi adiknya. Persoalan menjadi lebih pelik karena si wanita berstatus janda.
Sekali lagi Tina menyindir (kalau tak mau menyebutnya mengkritik) kita yang sering menilai negatif seorang janda. Janda acap dianggap sebagai ancaman, baik bagi para pria beristri maupun para pemuda lajang. Sepertinya, pasangan yang tepat bagi para janda adalah bujang lapuk atau para duda.
Meski favoritku hanya dua, namun bukan berarti cerpen yang lain kalah menarik. Hanya saja saat dibaca sekarang agak kurang pas. Kurang dapat menghayatinya sebab masa-masa remajaku sudah lama berlalu. Barangkali akan berbeda jika aku membacanya waktu sekolah dulu. Romantika asmara anak muda yang penuh gejolak rindu, prasangka, cemburu, marah, benci….Ah, nostalgia yang manis untuk dikenang dan diceritakan kembali.
Secara keseluruhan, cerpen-cerpen Tina tentu layak dinikmati. Hal yang patut disayangkan, masih banyak terdapat kesalahan eja dan pengetikan yang cukup mengganggu mata. Seperti melihat rumput liar di sela-sela tanaman bunga. Hal lain lagi yang aku kurang sreg adalah desain kovernya. Kesannya jadul banget. Padahal, desain kover salah satu faktor menentukan loh. Walaupun aku pengikut setia aliran don’t judge the book by its cover tetapi terganggu juga sih kalau melihat desain kover yang kurang oke.***

   | Dua Ibu | Jul 27, '09 12:45 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Arswendo Atmowiloto |
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun: 2009 Tebal: 304 hlm.
Siapa yang lebih berhak menyandang sebutan ‘ibu’, seorang wanita cantik yang melahirkan kita tapu kemudian meninggalkan kita atau seorang perempuan desa sederhana yang dengan ikhlas dan penuh kasih sayang merawat serta mengasuh kita sebagai anak kandungnya sendiri?
Kurang lebih seperti itulah permasalahan yang dilontarkan Arswendo dalam novel lawasnya yang diterbitkan kembali sejak lebih setengah abad dari penerbitannya yang pertama. Dua Ibu, novel yang mengusung tema sosial, seperti kebanyakan novel Wendo, juga menghadirkan kisah drama kehidupan masyarakat kelas bawah. Sebuah kisah realis yang menyentuh tanpa dengan tokoh-tokoh orang miskin yang optimis dan selalu gembira dalam kekurangan mereka. Agaknya haram bagi tokoh-tokoh rekaan Wendo untuk mengeluh, apalagi meratap-ratap dalam kemalangan mereka.
Novel yang kuberi 3 dari lima bintang ini rasanya sudah pernah kubaca duluuuu sekali, saat aku kelas I SMA. Terus terang, tak ada yang tersisa dalam ingatanku ihwal novel ini kecuali judul dan pengarangnya serta bahwa aku telah menghilangkan buku yang kusewa dari taman bacaan “Intan” di dekat rumahku itu. Karena keteledoranku tersebut, aku kena denda harus menggantinya dengan uang senilai harga buku itu.
Kisah bukunya sendiri tidak ada yang sempat membekas. Aku jadi tidak yakin apakah waktu itu aku benar-benar telah membacanya? :D Tetapi sudahlah, itu tak penting lagi. Yang penting akhirnya kini aku betul-betul membacanya.
Yang terutama aku suka dari karya-karya Arswendo adalah karena tema realita sosialnya. Setiap membaca buku-bukunya aku selalu merasa akrab dengan karakter-karakter dan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Begitu riil. Begitu dekat dengan keseharianku. Seperti layaknya tetangga.
Begitu pun dalam Dua Ibu. Berkisah mengenai seorang perempuan sederhana yang memiliki cinta seorang ibu bahkan bagi anak-anak yang bukan anak kandungnya. Ia memberikan segala yang dimilikinya dengan ketulusan dan keikhlasan hati seorang ibu sejati. Ia mengingatkanku pada ibuku.
Hal lain yang aku suka dari kebanyakan tulisan-tulisan Wendo adalah karena ia selalu menggunakan bahasa yang lugas, sederhana, namun tetap menarik dinikmati. Ia juga tak melupakan unsur humor sebagai bumbu yang menambah lezat cita rasa kisah-kisah rekaannya. Yang “menyebalkan”, humor-humor itu seringkali terasa pahit dan justru membuatku diam-diam menitikkan airmata. Seperti bercanda dalam duka gitu :D.
Lantaran ini karya lawas yang berjarak seperempat abad lebih, barangkali jika dibaca kembali saat ini–khususnya buat para pembaca muda yang tidak mengalami era 80-an–akan mendapati sebuah kesenjangan yang disebabkan kemajuan teknologi sekarang. Misalnya, dalam buku ini kita masih menemui kegiatan surat-menyurat sebagai salah satu bentuk komunikasi antartokohnya. Surat, yang dikirim lewat pos, hari ini mungkin sudah menjadi sebuah benda antik berkat kehadiran internet dan handphone. Siapa lagi di antara kita yang masih memakai surat untuk berkirim sapa dan kabar?
Namun, bagi pembaca sepertiku yang sempat mengalami zaman keemasan surat-menyurat (mulai dari surat cinta hingga sahabat pena), justru menjadi sebuah nostalgia. Kenangan romantis yang rasanya sudah tidak mungkin diulang kembali. SMS, email, dan facebook, tentu akan jauh lebih lekas, murah, dan praktis. Yang masih sanggup bertahan barangkali kartu pos. Itu pun hanya sebatas sebagai suvenir untuk dikoleksi ketimbang penyampai warta.
Surat boleh saja telah menjadi kuno dan ketinggalan zaman, tetapi kisah tentang ibu akan selalu hadir sampai kapan pun, bukan? Semangat itulah yang menjadikan Dua Ibu tetap enak dibaca hari ini. Sebab, seorang ibu tidak akan pernah menjadi usang dan dilupakan. Kita selalu memerlukan sosoknya, di kala sakit maupun senang. Seorang Malin Kundang pun diam-diam boleh jadi merindukan ibunya, setidaknya untuk membuyarkan kutukan.***

 | Category: | Books | | Genre: | Science Fiction & Fantasy | | Author: | Trenton Lee Stewart |
Penerjemah: Maria M. Lubis Penyunting: Nadya A. Penerbit: Matahati Cetakan: I, 2009 Tebal: 574 hlm.
Mengapa ya belakangan ini cerita-cerita fantasi untuk anak dan remaja, sering memakai tokoh seorang anak yatim piatu? Itulah pertanyaan pertama yang menyembul di benakku saat diperkenalkan dengan tokoh utama buku The Mysterious Benedict ini. Adalah Reynard Muldoon si anak malang itu. Bahkan, di cerita ini masih ada 2 anak lainnya yang juga tak memiliki orang tua.
Kembali ke pertanyaanku tentang anak-anak yatim yang menjadi tokoh utama kisah-kisah fantasi. Mengapa aku menyebutnya “sering”? Nggak percaya dan masih perlu contoh? Yuk, kita lihat daftarnya yang lumayan panjang: Harry Potter (JK Rowling), Harry dan Geng Keriput (Alan Temperley), Pangeran Pencuri (Cornelia Funke), The Book of Lost Things (John Connoly), The Edge of Chronicles (Paul Stewart & Chris Riddell) dan masih banyak lagi kurasa.
Nah, kira-kira kenapa ya anak-anak tak berayah ibu ini dijadikan tokoh utama? Apakah demi menimbulkan keharuan para pembacanya? Apakah ada semacam keyakinan, bahwa semakin malang tokohnya akan semakin meraih simpati pembaca dan kemudian menjadi idola? Atau semata-mata untuk memudahkan penulisnya saja dalam menciptakan latar belakang si tokoh?
Misalnya, Harry Potter. Ayah ibunya diceritakan mati dalam sebuah pertarungan sihir dengan Voldemort, tokoh jahat di buku tersebut. Harry lalu dipelihara oleh paman dan bibinya yang kurang murah hati padanya. Tak beda jauh dengan si Potter, tokoh Harry dalam Harry dan Geng Keriput, juga menyandang status yatim piatu lantaran orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Dia tak lebih beruntung dari Harry si penyihir karena harus mau tinggal bersama pembantunya yang jahat sebelum akhirnya diasuh oleh neneknya yang nyentrik.
Mau tidak mau, pada akhirnya kita memang jadi jatuh sayang kepada bocah-bocah malang tersebut. Simpati itu kian bertambah besar karena bocah-bocah ini merupakan manusia-manusia kecil yang tabah, cerdas, dan baik hati.
Demikian pula Reynard ‘Reynie’ Muldoon dalam buku karya Trenton Lee Stewart ini. Reynie, bocah lelaki umur 12 tahun yang menghuni sebuah panti asuhan, adalah seorang anak yang cerdas dan berbakat. Suatu hari, oleh guru privatnya, Miss Perumal, ia didaftarkan pada sebuah lomba yang ganjil untuk anak-anak berbakat seperti dirinya. Di lomba ini, Reynie berkenalan dengan 3 orang anak lainnya yang kelak menjadi teman-temannya satu tim. Mereka adalah Kate, Sticky, dan Constance. Masing-masing mereka memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda-beda yang di kemudian hari sangat bermanfaat dalam melaksanakan misi misterius dari Mr Benedict, seorang jenius si penggagas lomba aneh itu.
Bagi kalian penggemar kisah-kisah fantasi, buku ini cukup menarik dinikmati. Ide besarnya tentu sangat klasik: memerangi kebatilan (hitam putih). Yang sedikit agak berbeda, mungkin, jenis kejahatan dan sosok antagonisnya. Serupa novel-novel bertema cinta, variasinya ada pada tokoh-tokoh dan persoalannya. Soal tema, kan cuma sesuatu yang kerap diulang-ulang.
Pujian untuk novel ini, pertama kutujukan bagi penulisnya: Trenton Lee Stewart, yang telah menyuguhkan sebuah dongeng asyik tentang persahabatan dan kepahlawanan. Penulis muda kelahiran Arkansas 1970 ini, menyajikan pesan-pesan moral dalam bukunya tanpa terkesan menggurui. Melalui tokoh-rokohnya, Stewart seolah-olah ingin menyampaikan, jangan pernah meremehkan anak-anak. Mereka, para kanak-kanak ini, mempunyai kekuatan sendiri yang tidak dimiliki para orang dewasa.
Pujian kedua, kuberikan bagi penerjemahnya, teman mudaku, Maria Lubis, yang telah secara keren mengalihbahasakan karya yang aslinya berbahasa Inggris ini. Ada satu bagian yang berkesan saat ia menerjemahkan yang seharusnya ‘berharga’ menjadi ‘berharta’ (karena si tokoh keliru mengucapkannya). Entah apa dalam bahasa aslinya.Begitu juga untuk terjemahan pesan morse : k dan c ke mana rebend era. Bikin penasaran, sebenarnya dalam bahasa Inggrisnya seperti apa?
Pujian berikutnya, untuk perancang kovernya, Ella Elviana. Kover hasil desainnya tak kalah cantik dengan edisi aslinya. Sayang, ada kekeliruan fatal dalam menuliskan nama pengarangnya, Trenton Lee Stewart menjadi Treton Lee Stewart. Kecerobohan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Mudah-mudahan saja tidak diprotes oleh si pemilik nama. ***

 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Ernest Hemingway |
Judul asli: The Old Man and the Sea Penerjemah: Yuni Kristianingsih P. Penyunting: Mita Yuniarti Penerbit: Serambi Cetakan: I, 2008 Tebal: 145 hlm
Pernahkah kau merasa takut menghadapi hari tua? Aku pernah. Sebagai seorang yang telah berikrar untuk melajang seumur hidup, rada ngeri juga membayangkan hari tuaku kelak. Berbeda dengan mereka yang hidup “normal” – menikah dan punya anak – barangkali masa pensiunku nanti akan kuhabiskan sendiri, tanpa anak cucu. Mungkin aku akan menghuni panti jompo yang sewanya kubayar dari uang pensiunku. Di sana, dengan sebuah laptop (pasti 30 tahun lagi bentuk komputer semakin canggih dan ringkas), aku akan mengisi sisa hidupku dengan menulis. Seperti NH Dini (Eh, tapi Eyang Dini kan punya 2 orang anak, ya?)
Tetapi yang barangkali paling kukhawatirkan tentang masa tua adalah menyaksikan tubuhku menjadi semakin lemah. Kulitku akan mengerut dan mengeriput. Wajahku akan penuh gurat-gurat aneh sebagaimana almarhum nenekku. Mungkin aku juga akan menjadi pikun, sedikit tuli, dan mengenakan kacamata setebal pantat botol. Bisa jadi juga aku akan mengenakan kerudung demi menutupi warna perak uban-uban. Itu kalau aku memang beruntung dikaruniai umur panjang hingga 70, misalnya.
Barangkali, bagi seorang nelayan, menjadi tua merupakan persoalan tersendiri. Seperti halnya Santiago, tokoh dalam Lelaki Tua dan Laut, cerpen keren karya Hemingway yang memenangi Pulitzer Prize tahun 1953. Ia tentu tidak berpikir untuk tinggal di rumah jompo di tepi pantai dan menanti ajal sembari membaca buku.
Bagi Santiago, laut adalah hidupnya. Ia mengenal samudera seakrab ia mengenal jemari tangannya. Di usia senjanya, saat kekuatan fisiknya sudah sangat menurun, ia masih melaut. Sebagaimana kehidupannya yang selalu sendiri, melaut pun dilakukannya sendiri. Ia hanya memiliki seorang sahabat kecil, Manolin, yang kadang-kadang menemaninya berburu ikan.
Sekali dalam hidup Santiago, terjadi sebuah peristiwa yang tak akan pernah dilupakannya: ia berhasil menangkap ikan marlin raksasa setelah melaut selama 85 hari. Itulah rekornya sebagai nelayan.
Pak Tua Santiago berhasil menaklukkan ikan marlin yang lebih besar dari perahunya itu setelah berjuang keras dan mengorbankan seluruh miliknya yang paling berharga: pisau, alat pancing, tali temali, dan perahunya.
Penaklukkan itu merupakan pembuktian bahwa meski ia sudah uzur namun masih sanggup bertahan hidup selama 85 hari di tengah gelombang untuk kemudian mengalahkan seekor ikan raksasa. Sendirian! Dengan sisa-sisa tenaganya. Dengan jemari tuanya yang sempat kram. Dengan otot-otot liatnya. Dengan lutut yang gemetar. Dengan tetesan darahnya. Ia bukan hanya mengalahkan marlin gede itu, tetapi juga sejumlah hiu ganas yang berusaha merebut tangkapan besarnya tersebut.
Membaca kisah Santiago ini, yang terasa olehku adalah sebuah kesepian yang sangat dalam. Sebuah perasaan kesendirian yang sangat menyentuh dari seorang pria tua di pengujung usianya. Ia kerap bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau dengan alam sekitarnya: ikan-ikan, burung-burung camar, penyu, angin, awan, atau tangannya sendiri:
Dia berdiri, mengelap tangannya pada celana. “Sekarang,” katanya, “kamu bisa melepaskan tali senar itu, Tangan, dan aku akan memegangnya dengan lengan kanan saja sampai kauhentikan omong kosong itu.” (hlm 65)
Nyaris di sepanjang kisah, bertebaran monolog seperti itu yang diucapkan oleh tokoh Santiago. “Percakapan” inilah yang membawa pembaca kepada sebuah kisah yang penuh perenungan tentang kehidupan, terutama hidup di masa tua. “Seseorang seharusnya tak sendirian pada usia tua mereka, pikirnya. Tetapi ini tak bisa dielakkan.” (hlm 53)
Mungkin selagi Santiago muda belia, masih sekuat kuda tenaganya, ia tidak merasa kesepian seperti saat itu. Atau mungkin juga, ia baru merasa hidupnya sangat sunyi setelah memiliki Manolin sebagai sahabat yang telah memberinya kesempatan merasakan mempunyai seseorang yang menyayangi dan mencintai. Memiliki seseorang yang ia cintai dan sayangi. Diam-diam, ia sering merindukan Manolin.
Dengan lantang ia berkata, “Aku berharap aku bersama anak lelaki itu.” Tapi kau tidak bersama anak lelaki itu, pikirnya. Kau hanya bersama dirimu sendiri dan kau lebih baik kembali bekerja…(hlm 57).
Cerpen (ada juga yang menyebutnya novela) ini telah mengantarkan Hemingway kepada puncak ketenaran sebagai salah seorang penulis papan atas Amerika. Menurut para kritikus sastra, inilah karya masterpiece penulis kelahiran Illinois, 21 Juli 1899 itu. Berkat popularitasnya pula, telah beberapa kali, cerita si Tua Santiago ini diangkat ke layar lebar.
Konon, pengarang yang menikah empat kali ini, adalah seorang pecandu berat alkohol. Di masa tuanya, ia menderita depresi yang parah lantaran merasa tak mampu lagi menulis dengan baik. Ia menghabisi hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri. Saat itu ia nyaris berumur 62 tahun. Tragis banget, ya?
Tetapi, untunglah, aku tidak ikut-ikutan depresi setelah membaca Lelaki Tua dan Laut ini. Sudah lama aku tak merasa ngeri lagi ihwal bayangan masa tuaku nanti. Toh, belum tentu aku akan hidup sampai tua, kan? Kata orang bijak, bayangan itu sering jauh lebih menakutkan ketimbang benda aslinya. Jadi, siapa takut? ***

   | Inkheart | Jun 29, '09 2:53 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Sutradara: Iain Softley Skenario: David Lindsay-Abaire Pemain: Brendan Fraser, Eliza Bennet, Paul Bettany, dll. Masa putar: 106 menit Tahun: 2008
Kalau saja aku belum membaca novelnya, mungkin aku tidak terlalu berminat menonton filmnya. Inkheart, film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama karya penulis cerita anak dan remaja asal Jerman, Cornelia Funke.
Sejak pertama kali membaca novelnya yang bertajuk Pangeran Pencuri (buku ini pun sudah difilmkan), aku telah terpikat pada Cornelia Funke. Maka, saat Inkheart terbit dalam bahasa Indonesia, aku pun memburunya. Cerita fantasi yang keren dan mengesankan, sebab ia berkisah tentang orang-orang yang tergila-gila pada buku: Mortimer, Meggie, dan Elinor. Mereka bertiga adalah satu keluarga. Mortimer atau Mo adalah ayah kandung Meggie; sedangkan Elinor adalah bibi dari istri Mo, Resa.
Dari ketiga tokoh tersebut, Elinor menjadi favoritku. Ia dengan segala kecintaannya kepada buku, bagiku menjadi tokoh yang sangat keren. Ia mengisi hampir seluruh ruangan di rumahnya yang besar dan luas dengan buku-buku. Sebagian besar merupakan koleksi langka yang mahal harganya. Elinor tidak menikah. Mungkin seluruh cintanya sudah dicurahkan kepada buku-buku miliknya itu, sehingga tak tersisa lagi bagi seorang pria pun. Barangkali, untuk Elinor, buku-buku itu jauh lebih setia daripada para lelaki. Hehehe…
Sayangnya, tokoh favoritku ini bukanlah karakter utama. Walaupun tokoh utamanya, Mo si Silvertongue tidak kalah menariknya, namun bagiku Elinor lebih memikat dengan segala kekeraskepalaannya dan kuitpan-kutipannya tentang buku. Nah, di film, bagian ini tidak begitu kelihatan. Padahal, salah satu yang menarik dari Inkheart (novel) adalah membaca kutipan-kutipan itu.
Tetapi baiklah, masih ada Brendan Fraser sebagai Mo yang cukup enak dipandang. Juga ada Paul Bettany yang berperan sebagai Dustfinger, salah satu karakter yang melompat ke luar karena lidah ajaib Mo.
Ya, Mo memiliki bakat istimewa yang kelak menurun kepada Maggie (Eliza Bennet), putrinya. Mereka sanggup memunculkan ke dunia nyata para tokoh (dan juga benda-benda atau apa saja) dari buku-buku yang mereka baca. Syaratnya, membacanya harus dengan suara keras, tidak dalam hati saja. Kemampuan spesial ini agaknya bukan saja menjadi anugerah tetapi juga musibah. Ia harus bertanggung jawab mengembalikan tokoh-tokoh yang keluar dari buku Inkheart kembali ke tempat asal mereka. Masalahnya, Mo tidak yakin apakah ia sanggup melakukan itu semua. Ia sudah jelas bisa mengeluarkan mereka dari dalam buku, tetapi untuk mengembalikannya, ia belum pernah mencobanya.
Masalah bertambah pelik ketika tokoh antagonisnya, Capricorn (Andy Serkis), menolak untuk kembali ke dalam buku. Capricorn lebih merasa nyaman dan kerasan di dunia Mo. Dan celakanya, tokoh jahat ini tetap menjadi penjahat seperti di dalam buku. Dunia riil tidak mengubah karakternya. Ia membuat kekacauan di Bumi.
Bagi yang telah membaca novelnya, jangan kecewa jika ada beberapa bagian di film ini yang tidak serupa dengan di buku. Sah-sah dan biasa saja sih kalau hal seperti itu terjadi. Namanya juga dua media yang berbeda, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetapi, jika aku harus memilih antara keduanya, aku akan menjatuhkan pilihanku pada novelnya, karena aku bisa bebas mengumbar imajinasiku tanpa dibatasi gambar-gambar ciptaan sutradara dan teknik sinematografi. Kamu punya pendapat lain?***

 | Category: | Books | | Genre: | Mystery & Thrillers | | Author: | Windry Ramadhina |
Judul buku: Metropolis Penulis: Windry Ramadhina Penyunting: Mira Rainayati Penerbit: Grasindo Cetakan: I, 2009 Tebal: 331 hlm
Di sekitar lokasi pemakaman berjaga sejumlah polisi. Mobil-mobil mereka berbaris di pinggir tanah luas yang dipagari kamboja kuning dan tersaput rumput hijau yang terpangkas rapi. Bram yang memimpin polisi-polisi tersebut. Ia berdiri bersandar pada mobil dinasnya. Matanya memperhatikan kumpulan orang berpakaian serbahitam yang sedang berdoa di tengah pemakaman. Di antara kumpulan itu ia mengenali Ferry, anak tunggal Leo. Ferry berdiri paling dekat dengan peti mati ayahnya dan laki-laki muda berdarah Sulawesi itu tampak sangat terpukul (hlm 1).
Apa yang terbayang olehmu ketika membaca deskripsi di atas? Apakah sama dengan yang kubayangkan: adegan pembuka di sebuah film mafia? Pemakaman. Orang-orang berpakaian hitam. Polisi yang berjaga-jaga.
Novel kedua karya Windry Ramadhina ini memang mengusung tema mafia bergenre detektif. Mafia narkotika di Jakarta tepatnya dengan tokoh utama seorang inspektur polisi muda bernama Bram Agusta. Windry berhasil menciptakan tokohnya ini sebagai sosok polisi sekaligus detektif yang cerdas dan “bandel”. Bukan mustahil, jika Windry bersedia, ia bisa saja membuat sebuah kisah serial detektif–seperti Agatha Christie dengan Poirot-nya atau Sir Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya–dengan Bram sebagai jagoannya. Peluang itu sangat terbuka bagi penulis Orange ini.
Lewat Metropolis ini, Windry sukses menampilkan sebuah kisah campuran detektif dan aksi, genre yang jarang disentuh oleh penulis kita. Windry sangat berbakat menulis kisah serupa ini. Metropolis bisa menjadi awal yang baik bagi Windry untuk menobatkan diri sebagai penulis kisah detektif menyusul seniornya, S Mara Gd. Malah, menurutku, Windry menyimpan kekuatan yang lebih dibanding pendahulunya itu yang sangat dibayang-bayangi Agatha Christie dengan duet Kosasih dan Gozali yang meniru Poirot dan Hastings.
Sebagai sebuah cerita detektif berbalut action ala Godfather ini, Windry mampu menjaga alur dan memainkan temponya dengan baik sehingga pembaca betah bertahan hingga halaman terakhir. Ketegangan dan unsur-unsur misterinya ia olah dengan cermat dalam tuturan yang lancar dan cerdas. Tokoh-tokohnya hidup dengan karakter yang melekat konsisten. Ia juga sanggup menghadirkan sejumlah data dan fakta seputar kejahatan narkotika yang–mungkin–diperolehnya dari sumber-sumber di kepolisian Jakarta. Ini menjadi kelebihan tersendiri. Keistimewaan lainnya adalah faktor humor yang kerap dilupakan oleh para penulis kita. Padahal humor, jika dikemas dan ditempatkan dengan cerdik, bisa menjadi bumbu penyedap yang menyegarkan. Seperti dalam buku Windry ini. Alhasil, Metropolis adalah buku detektif yang asyik dikunyah. Gurih. Kriuuuuk…..
Terus terang, ketika pertama kali Windry menyebutkan judul Metropolis, yang pertama melintas di benakku adalah sebuah novel metropop (chicklit). Maka, saat buku tersebut kuterima, gambaran tentang novel chicklit langsung sirna seketika mendapati kovernya yang bergambar cuplikan sepotong halaman koran dengan noda darah menggenang di atasnya. Desain kover yang sangat jauh dari gambaran sebuah novel chicklit yang lazimnya colourful dan ceria.
Sejatinya, bukanlah sesuatu yang terlalu mengejutkan mendapatkan fakta Windry telah menulis novel ini dengan memikat. Pada karya sebelumnya, ia telah membuktikan kemampuannya menulis melalui karya debutannya: Orange (aku belum baca buku ini) yang sempat masuk lima besar ajang KLA (Khatulistiwa Literary Award) tahun lalu untuk kategori Penulis Muda Berbakat. Di final, ia dikalahkan oleh rekannya, Wa Ode Wulan Ratna dengan bukunya Cari Aku di Canti.
Sekali lagi, selamat buat Windry. Benar deh, kalau kamu berniat menjadi penulis cerita detektif, kamu sudah memulainya dengan baik melalui Metropolis ini.***

   | Botchan | Jun 16, '09 4:36 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Natsume Soseki |
Penerjemah: Indah Santi Pratidina Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan: I, 2009. Tebal: 217 hlm.
Beberapa alasanku memutuskan untuk membaca novel ini:
1.Desain kovernya. Ini sesuatu yang langka, sebab aku nyaris tidak pernah menilai buku dari sampulnya. Selama ini, aku termasuk orang yang cukup setia mengamalkan ungkapan “Don’t judge the book by its cover”. Biasanya, pertimbangan utamaku dalam membeli atau membaca buku adalah nama pengarangnya. Baru kemudian penerbitnya dan penerjemahnya jika itu merupakan karya fiksi terjemahan. Namun, untuk kali ini aku terpaksa melanggar keyakinanku sendiri dan menyerah pada daya tarik desain kover hasil rancangan Martin Dima ini. Empat bintang untuk kerjamu, Kawan!
Kover ini memikat lantaran gambarnya yang terkesan komik dan jenaka dalam 9 panel (kotak) dengan 3 di antaranya sengaja dibuat “berlubang” seperti jendela. “Jendela” tersebut menampakkan gambar pada lapis kedua sampul ini. Unik. Lucu. Aku sempat mengira ini sebuah novel kanak-kanak seperti layaknya Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi).
2.Judulnya. Mengingatkan pada salah satu buku favoritku sepanjang masa : Totto-chan. Seperti sudah kutulis di atas, semula aku mengira buku ini buku cerita kanak-kanak (atau setidaknya tokoh ceritanya adalah anak-anak). Aku senang dengan buku yang memakai tokoh atau sudut pandang anak-anak.
3.Kertasnya. Novel karya sastrawan Jepang yang ditulis pada 1906 (ugh, sudah lebih satu abad, ya?) ini oleh Gramedia dicetak dalam jenis kertas ringan yang belakangan ini banyak digunakan oleh penerbit kita.
Ketiga hal di muka sebenarnya sangat jarang memengaruhiku dalam memutuskan membeli atau membaca sebuah buku (fiksi). Tetapi, agaknya sekali ini, pilihanku terhadap Botchan (dengan menggunakan 3 kategori tadi) tidak keliru. Tentu saja nama penulisnya, Natsume Soseki, tidak mungkin kujadikan bahan pertimbangan, sebab belum pernah satu kali pun kudengar seumur hayatku. Namun, sekarang aku jadi tahu siapa sesungguhnya dia.
Natsume Soseki lahir di Tokyo pada 1867. Sejak kecil ia telah jatuh cinta pada sastra. Pada usia 14 tahun, untuk pertama kalinya bocah ini mempelajari sastra Cina di sekolahnya yang pengaruhnya terus melekat dan dapat dirasakan dalam karya-karyanya.
Lantaran cinta mati pada sastra, ketika meneruskan ke perguruan tinggi, Soseki memilih Jurusan Sastra Inggris di Tokyo Imperial University pada 1890 dan lulus lima tahun kemudian. Berikutnya, ia mengamalkan ilmunya tersebut di sekolah menengah Matsuyama sebagai guru Bahasa Inggris. Sekolah inilah yang kelak dijadikan setting Botchan, novel keduanya.
Sesungguhnya Botchan adalah sebuah kisah sederhana tentang geliat kehidupan di sebuah desa kecil bernama Shikoku. Dalam skup yang lebih sempit lagi: kehidupan para guru sekolah menengah Shikoku.
“Kecurigaan”-ku bahwa Botchan adalah buku kanak-kanak, nyaris terbukti sewaktu kudapati barisan kalimat pada bab pertama buku ini :
Sejak aku kecil, kecerobohan alamiku selalu memberiku masalah. Pernah, suatu kali saat aku masih di sekolah dasar, aku melompat dari jendela di lantai dua dan akibatnya tidak bisa berjalan selama seminggu (hlm 11).
Aku hampir saja bersorak karena kukira akan menemukan sebuah kisah yang senada dengan Totto-chan. Tetapi, rupanya bab 1 ini hanya merupakan episode perkenalan pembaca dengan tokoh utamanya: Botchan yang dalam bahasa Jepang berarti tuan muda.
Oh, jangan buru-buru kecewa sebab kendati temanya biasa dan sederhana saja, Botchan akan memikat Anda hingga akhir cerita. Itu jika selera bacaan Anda sama denganku. Botchan adalah sebuah novel realis yang mengetengahkan persoalan sehari-hari kehidupan para guru (lelaki) yang bisa jadi merupakan potret kecil kehidupan masyarakat Jepang umumnya. Di sana ada orang yang culas, jujur, pemberani, pengecut, santun, penjilat, dan sebagainya.
Botchan sendiri, sebagai karakter utama novel ini, hampir-hampir saja menjadi antihero, karena walaupun ia tokoh protagonis, Natsume tidak menghadirkannya sebagai sosok yang sempurna, serbabaik, dan tanpa cela. Botchan adalah seorang pria biasa dengan kepandaian sedang-sedang saja. Secara fisik pun ia bukan pria tampan yang akan segera memikat hati para gadis. Ia cenderung memiliki sifat seorang penggerutu. Tetapi, ia juga seorang pria jujur yang bersikap adil, baik kepada dirinya sendiri atau pun orang lain.
Dan sebagaimana lazimnya, kejujuran selalu akan berhadapan dengan kelicikan. Memang pada akhirnya novel ini adalah sebuah kisah hitam-putih, namun Soseki tidak terjebak untuk menyampaikan pesan moralnya menjadi sebuah khotbah yang menggurui. Bahkan pada beberapa bagian, ia dengan cerdiknya menyelipkan humor-humor yang cukup lucu yang membuatku tak mampu menahan senyum atau tawa kecil. Alhasil, Botchan menjadi sebuah bacaan yang menyenangkan dan bergizi tinggi. Bagi yang sudah membaca, apakah Anda sepakat denganku?***

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Sutradara: Mark Herman Skenario: Mark Herman (berdasarkan novel John Boyne) Pemain: Asa Butterfield, Vera Farmiga, Zac Mattoon O'Brien Masa putar: 94 menit Tahun: 2008
Setelah dua tahun lalu aku membaca novelnya, akhirnya berkesempatan juga menyaksikan versi filmnya (terima kasih ya, Erry!). Buku yang bagus dan telah membuatku menangis tersedu-sedu. Meski filmnya juga ciamik, tetapi tidak sebegitu menyesakkan dada. Atau lantaran aku sudah tahu ceritanya, ya, sehingga tidak ada efek kejutnya lagi. Sempat menitikkan air mata juga sih pada bagian Bruno (Asa Butterfield) mengingkari persahabatannya dengan Shmuel (Jack Scanlon). Juga ketika tiba pada adegan Bruno dan Shmuel berjabat tangan setelah Bruno meminta maaf atas 'kejahatannya' itu.
Cerita The Boy in the Striped Pyjamas ini sebuah kritik tajam terhadap peristiwa holocaust yang menyebabkan jutaan orang Yahudi mati di kamp-kamp konsentrasi tentara Jerman di masa pemerintahan Adolf Hitler. Novelnya konon telah terjual lebih dari 5 juta copy di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa, termasuk Indonesia. Boyne menyampaikan kritiknya tidak dengan kemarahan tetapi justru dengan sebuah kisah yang sangat menyentuh siapa pun yang membacanya. Dalam bukunya, ia tidak satu kali pun melontarkan makian terhadap Jerman atau sebaliknya pemihakan terhadap Yahudi. Ia mengambil posisi sebagai seorang manusia yang menentang pembantaian manusia terhadap manusia lain.
Tentu tidak akan adil andai membandingkan film dengan bukunya, sebab merupakan dua media yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi dalam hal ini filmnya cukup setia kepada bukunya. Ada sih bagian yang dihilangkan, seperti saat Hitler bertamu ke rumah keluarga Bruno. Juga penyebutan "Out-with" (Auschwitz), agaknya sudah dilenyapkan dari dialog. Entah kenapa.
Filmnya cukup apik, berhasil dengan baik menampilkan suasana Jerman dan Polandia masa Perang Dunia II. Lengkap dengan mobil, kereta api, dan kamp Auschwitz-nya (jadi ingat film Life is Beautiful. Hiks..). Tata rias dan rancangan kostum para pemainnya juga cukup mewakili, kendati akting mereka tidak terlalu istimewa. Kecuali Vera Farmiga yang lumayan menonjol sebagai ibu Bruno. Bagi Mark Herman, ini adalah film kedelapan yang dibesutnya. Sutradara asal Inggris ini juga menulis sendiri naskah film-filmnya, termasuk The Boy in the Striped Pyjamas.
Tokoh utamanya seorang bocah lelaki berusia delapan tahun bernama Bruno. Ia tinggal di Berlin, Jerman, bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, Gretel (12 tahun). Waktu itu tengah berkecamuk Perang Dunia Kedua di Eropa. Jerman di bawah komando Hitler, seperti sudah sama-sama kita ketahui, dalam perang tersebut memburu orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. The Fuhrer, Adolf Hitler, dengan sangat arogan mengklaim bahwa ras Aria adalah ras paling unggul dan orang-orang Yahudi harus disingkirkan dari muka bumi.
Ayah Bruno (Zac Mattoon O'Brien) adalah salah seorang pejabat militer kepercayaan Hitler yang dikirim bertugas ke Auschwitz sebagai komandan di kamp konsentrasi di sana. Bruno yang polos sama sekali tidak tahu bahwa kini mereka tinggal di sebuah kawasan kamp konsentrasi, tempat ribuan orang Yahudi menemui ajal di kamar-kamar gas dan tungku-tungku pembakaran. Ia hanya tahu bahwa kini ia kesepian tanpa seorang teman pun. Tetangganya hanyalah sebuah tempat luas dengan pagar kawat mengelilinginya. Di dalam pagar itu Bruno melihat sejumlah bangunan berukuran besar serta banyak orang laki-laki, dewasa dan anak-anak seumurnya, berpiama garis-garis. Bruno, bocah yang senang menjelajah itu, pada suatu petang akhirnya mendapatkan seorang teman sebaya yang tinggal di balik pagar tersebut: Shmuel, bocah Polandia keturunan Yahudi yang seusia dengannya. Sejak itu, secara rutin Bruno setiap petang mengunjungi sahabat barunya itu. Mereka mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali Bruno juga membawakan sepotong coklat atau roti yang berhasil diselundupkan dari dapur rumahnya untuk Shmuel. Sampai pada suatu hari, Bruno harus kembali ke Berlin. Anak baik itu sedih sekali karena berarti dia harus berpisah dengan sahabat satu-satunya, Shmuel. Untuk itu, sebelum pergi ia berniat melakukan "permainan" mencari ayah Shmuel yang telah beberapa hari menghilang. Tentu ia harus masuk ke balik pagar untuk dapat menemukan ayah Shmuel.
Film yang bagus. Namun, jika aku harus memilih antara buku atau film, aku akan memilih membaca bukunya.***

   | Ma Yan | May 30, '09 7:59 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Sanie B Kuncoro |
Editor: Rahmat Widada Penerbit: Bentang Cetakan: I, 2009 Tebal: 214 hlm.
Bulan Mei 2001. Pierre Haski, seorang wartawan Prancis yang bergabung dengan sebuah tim ekspedisi kecil, tiba di Zhanjiashu, sebuah dusun kecil berjarak ribuan kilometer dari Beijing. Di kampung ini, Pierre dan rombongannya dipaksa oleh seorang ibu untuk singgah ke rumahnya yang sangat sederhana. Di sana, ibu tersebut memberikan selembar surat dan tiga buah buku kecil bersampul cokelat. Surat dan buku yang ternyata adalah sebuah diary itu ditulis dengan pensil oleh seorang bocah perempuan berusia 13 tahun bernama Ma Yan. Isinya, ditulis dalam aksara Cina, berupa curahan hati si gadis kecil tentang keinginannya untuk terus bersekolah. Namun, lantaran kemiskinan orang tuanya, Ma Yan harus rela mengubur cita-citanya itu.
Surat yang ditulis di selembar kertas bekas pembungkus kacang itu, telah menggugah hati Pierre dkk. Maka, setelah melalui penyuntingan serta ditambah wawancara dengan Ma Yan, catatan harian tersebut setahun kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Diary of Ma Yan.
Dan apa hasilnya? Luar biasa! Kisah gadis Tiongkok itu telah mengundang banyak simpati dari masyarakat pembacanya di Prancis yang lantas memberikan sumbangan uang bagi pendidikan Ma Yan. Apa sebenarnya yang dituturkan Ma Yan dalam diary-nya itu sehingga membuat para pembacanya jatuh hati?
Gadis ini lahir dari pasangan suami istri miskin di Cina. Sangat miskin. Bayangkan saja, dengan penghasilan 120 yuan setahun (setara dengan 15 dolar AS atau 160.000 rupiah), keluarga ini harus mencukupi kebutuhan hidup mereka. Jangan lagi untuk sekolah, untuk makan pun sangat susah. Tak jarang, Ma Yan sekeluarga harus berpuasa menahan lapar lantaran tak ada uang untuk membeli makanan.
Pernah suatu ketika Ma Yan mengidamkan sebatang pulpen yang dilihatnya di pasar. Harga pena itu hanya 2 yuan. Tetapi bagi Ma Yan, uang dua yuan adalah jumlah yang besar karena sama dengan uang sakunya selama dua pekan. Demi memiliki benda idamannya itu, Ma Yan rela berhemat dan menahan lapar selama berhari-hari.
Kuterima pena itu dengan gemetar. Jantungku berdebar. Kugenggam pena itu erat-erat. Kuingat nasi tak berasa yang harus kutelan berhari-hari sekian pekan demi pena itu. Kuingat pedih di rongga perut berisi kelaparan yang panjang…..(hlm.76)
Namun demikian, orang tua Ma Yan, terutama sang ibu, memiliki tekad baja untuk menyekolahkan anak-anaknya agar kelak mereka tak mengalami nasib serupa orang tua mereka. Ibu dan ayah Ma Yan memeras keringat dan darah demi pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, ibu Ma Yan rela menjadi buruh pemanen fa cai – sejenis rumput sayuran, biasanya diolah untuk salad atau sup – di Ning Xia, daerah yang berbatasan dengan Mongolia Dalam. Berjarak 400 km dari kampung mereka. Meski upah yang diterima tak memadai, tetapi apa boleh buat hanya itulah pekerjaan yang tersisa bagi perempuan buta huruf seperti ibu Ma Yan.
Begitu beratnya kehidupan bagi Ma Yan sekeluarga. Kendati telah berupaya keras membanting tulang, namun akhirnya orang tua Ma Yan harus takluk di hadapan nasib buruk dan kemiskinan yang seolah abadi. Mereka menyerah, tak sanggup lagi membiayai sekolah Ma Yan.
Namun, peruntungan dan mukjizat seringkali datang tak terduga. Seperti telah diuraikan di atas, berkat catatan hariannya, Ma Yan bisa kembali melanjutkan cita-cita yang pernah terkubur. Gadis kecil itu kini kembali ke sekolah. Dunia telah membaca kisahnya dan mengulurkan bantuan untuknya. ***
Kisah tadi adalah kisah nyata yang ditulis ulang oleh Sanie B Kuncoro dalam bentuk novel (novelisasi?). Jika buku aslinya setebal 372 halaman dengan format pocket book, maka oleh Sanie diringkas menjadi hanya tinggal 214 halaman berukuran sedikit lebih besar.
Jika harus membandingkan keduanya, masing-masing memiliki kelebihan. The Diary of Ma Yan terbitan Q-Press tentu menyajikan cerita yang lebih detail karena memuat secara lengkap catatan harian Ma Yan. Bagi Anda yang senang dan ingin mengetahaui kisah rincinya, sebaiknya memang membaca buku aslinya. Tetapi, apabila Anda ingin menikmati sebuah kisah dengan alur seperti novel, maka tulisan Sanie akan lebih cocok.
Susan Ismiati, begitulah nama asli Sanie B Kuncoro, mengaku bahwa Ma Yan merupakan “novel” pertamanya dan menjadi semacam lompatan atau anak tangga dari semula menulis cerita cinta romantis manis–yang cenderung terasa lebih ngepop–kepada karya yang lebih “nyastra”, walaupun hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan gosip bakal keluarnya novel Susan paling mutakhir bertajuk Garis Perempuan yang konon akan berbeda dengan karya-karyanya selama ini. Hmm, kita tunggu saja, ya.
Kembali ke Ma Yan. Kalau kita perhatikan baik-baik kovernya, di sudut kiri atas tertera label “Lini Laskar Pelangi”. Barangkali fungsinya sebagai stempel bahwa kisah di dalamnya adalah sebuah kisah yang mengusung spirit Laskar Pelangi : pendidikan. Yah, memang begitulah kerap terjadi di mana pun. Sebuah produk yang laris manis, segera saja melahirkan produk-produk sejenis yang mirip. Itu berlaku hampir di segala bidang: buku, film, musik, makanan, minuman, fesyen…..
Tentang bukunya ini, Susan pernah berbagi kebahagiaan dengan saya, bahwa ia senang buku yang ditulisnya ini ternyata diterima dengan cukup baik oleh pembacanya. Salah satu buktinya pada suatu hari ia ditelepon oleh seorang ibu yang telah membaca Ma Yan ini. Si ibu menyampaikan penghargaan sekaligus berterima kasih kepada Susan karena berkat Ma Yan anak perempuannya (seumuran Ma Yan) kini jadi rajin belajar serta penuh perhatian kepadanya. Pengakuan ibu tersebut membikin Susan terharu dan diam-diam menitikkan air mata.
“Aku bahagia karena ternyata bukuku bermanfaat bagi orang lain,” katanya. Tentu saat itu ia sudah tidak menangis lagi.***

   | Kolam | May 25, '09 4:41 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Sapardi Djoko Damono |
Penerbit: Editum Cetakan: I, 2009 Tebal: 120 hlm
Buku ini dibedah pekan lalu (18/5) di Salihara bersama Hasan Aspahani (penyair) dan Muhammad Al Fayyadl. Buku dengan sampul hitam putih bergambar lukisan karya Jeihan ini memuat 51 puisi terbaru Sapardi Djoko Damono (selanjutnya aku sebut Sapardi saja). Kelima puluh satu sajak tersebut dibagi menjadi 3 bagian (kata Reda Gaudiamo pada kesempatan bertemu di sebuah acara sastra, Sapardi sangat suka angka 3).
Tahun ini, tepatnya 20 Maret silam, penyair idolaku ini genap berusia 69 tahun (eh, 69 bukan angka genap, ya?). Sebuah angka yang tidak muda lagi tentu. Namun, pada usia senjanya itu, Sapardi masih terus menyajak, membuktikan kecintaan dan kesetiaannya kepada seni yang bernama puisi.
Kalau kita cermati sejak buku perdananya, DukaMu Abadi (1969 – wow, aku masih orok!) hingga yang hadir terakhir ini, Kolam (2009 – berjarak tepat 40 tahun!), kita bisa lihat ada sesuatu yang mengabadi di dalamnya: kesetiaan Sapardi menggunakan benda-benda alam sebagai alat pengucapan sajak-sajaknya. Dalam rentang 40 tahun itu, kita akan selalu bertemu dengan kabut, bunga, embun, matahari, bulan , bintang, langit, rumput, pohon, ilalang, awan, ranting, sungai, laut, hujan……
Ketika hal tersebut disinggung oleh Zen Hae (penyair) pada malam diskusi di Salihara itu, Sapardi menanggapinya dengan berujar, “Yang terpenting adalah bukan apa yang diucapkan, tetapi bagaimana mengucapkannya (puisi). Bagi saya, sudah tidak ada lagi yang baru di dunia ini. Tema dalam puisi itu kan hanya merupakan pengulangan-pengulangan.”
Terlepas apakah Anda setuju atau tidak pada jawaban Sapardi, untukku puisi-puisi bapak ini tetaplah menjadi sesuatu yang memukau. Ia tidak ingin bercanggih-canggih dengan serba-kebaruan. Ia memilih menjadi seorang penjaga “taman” yang setia, sebab “taman” itu adalah temuannya. Miliknya. Seperti halnya celana bagi Joko Pinurbo. Kurang lebih seperti itulah pendapat Hasan Aspahani yang dengan ikhlas kusepakati. Bagiku, dalam kesetiaannya itu, puisi-puisi Sapardi menjadi klasik dan akan senantiasa lestari.
Ada yang menarik, khususnya buatku, pada acara diskusi yang lalu. Sebelum acara resmi dimulai, aku sempat bertukar kata dengan Hasan Aspahani. Tak jauh-jauh topiknya, masih di sekitar pinggir-pinggir Kolam.
Hasan bertanya padaku, “Gimana, Ndah? Sudah khatam Kolam-nya? Apa favoritmu?”
“Pohon Belimbing,” sahutku. Itu merupakan sajak nomor urut 2 di buku ini.
Belum sempat kami membincangnya lebih jauh, Guntur Romli yang malam itu bertindak selaku pembawa acara, telah naik mimbar dan memanggil Hasan untuk segera menempati kursi di muka. Acara akan segera dibuka dengan pembacaan satu puisi oleh Sapardi. Anda tahu, puisi apa yang dipilih beliau? “Pohon Belimbing”. Ah..aku jadi merasa Sapardi khusus membacakannya buatku
Inilah “Pohon Belimbing” itu:
Pohon Belimbing
Sore itu kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya. Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik., juga karena konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem? Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa Belimbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon belimbing wuluh ity berjalan dalam tidur? Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi Tua juga akhirnya?
Entah. Barangkali aku pun tak paham sepenuhnya maksud puisi ini. Namun, ada yang terasa indah saat aku membacanya. Juga membersit sebuah perasaan cinta yang tulus, yang telah teruji melewati waktu nan panjang. Tetapi tentu saja, Anda boleh mempunyai tafsir yang berbeda terhadapnya. Tak berlaku tafsir tunggal dalam fiksi, terlebih puisi. Memangnya Pancasila? :D
Sebetulnya masih ada satu puisi lagi yang bakal menjadi calon kuat menggantikan “Aku Ingin” sebagai sajak wajib Valentine’s Day versi aku. Wajib di sini artinya, setiap Hari Cinta Kasih itu tiba, aku selalu mengirimkan untaian sajak tersebut kepada beberapa orang (cowok dong) yang “istimewa”. Agaknya, Februari tahun depan, “Aku Ingin” akan kutukar dengan sebuah puisi yang mirip: “Seperti Kabut”. Tidak percaya bahwa mereka mirip satu sama lain? Nih, aku kasih lihat, ya:
Seperti Kabut
aku akan menyayangimu seperti kabut yang raib di cahaya matahari : aku akan menjelma awan hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu : pada suatu hari baik nanti.
Bagaimana? Mirip sekali, kan? Spiritnya terutama: cinta.
Jadi, bagi Anda para penggemar Sapardi sepertiku atau penyuka sajak-sajak cinta yang manis romantis, Kolam perlu dimiliki sebagai koleksi karya seorang “dewa”. Puisi-puisinya bukan jenis yang berat, yang membikin kening berlipat empat. Lagian, tak perlu betul untuk benar-benar memahaminya kok. Seperti aku, nikmati saja.***

 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Sutradara: Stephen Daldry Skenario: David Hare (screenpaly) dan Bernhard Schlink Pemain: Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Kross, dll. Masa putar: 124 menit Tahun: 2008
Oh ya, sudah barang tentu, magnetnya adalah Kate Winslet yang tahun ini sukses menggondol piala Oscar sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik. Berikutnya adalah berita-berita dan obrolan-obrolan yang beredar ihwal adegan-adegan panas di film ini antara Hanna Schmitz (Kate Winslet) dan Michael Beng (David Kross). Meskipun aku kudu kecewa lantaran tidak kebagian adegan-adegan yang dihebohkan itu - BSF sudah menggunting-guntingnya agar tak terjerat UUAP - namun aku cukup puas dengan film The Reader ini. Film yang kemungkinan besar hanya akan diputar pada pertunjukan tengah malam ini, menampilkan akting keren Winslet sebagai mantan anggota tentara SS.
"Dijamin kamu tidak akan menyaksikan adegan 15 menit pertama yang syur itu," ujar salah seorang sahabat penggemar film ketika aku meniatkan diri hendak menonton film ini. Dan ia benar. Adegan tersebut (sepanas apa aku tidak tahu) sudah menghilang dari layar. Masih ada juga sih beberapa yang berhasil lolos, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan "ketegangan" :D Mengapa ya bagian itu meski dilenyapkan? Toh filmnya diputar midnite dengan penonton umumnya orang-orang dewasa yang sudah sangat pantas dan cukup usia untuk menyaksikannya.
Tapi baiklah, aku masih beruntung karena BSF masih mengizinkan film itu ditayangkan.
The Reader. Pembaca. Adalah Michael Beng (Ralph Fienne), seorang pengacara Jerman yang memiliki kisah ini. Kisah tentang kenangan kepada seorang perempuan kondektur trem yang dikenalnya pada tahun 1958. Mereka pertama kali bertjumpa di tengah hujan deras yang mengguyur Berlin. Saat itu Michael sedang sakit dan Hanna Schmitz menolongnya. Waktu itu, Maichael masih seorang bocah lelaki bongsor berusia 15 tahun dan usia Hanna menjelang 40. Seperti anak dan ibunya.
Namun, agaknya selisih umur yang cukup mencolok itu tak menghalangi mereka untuk bercinta. Tiga bulan setelah pertemuan pertama itu, Hanna memerjakai Michael di apartemennya. Sejak itu, hubungan keduanya kian erat. Di sela-sela percintaan mereka yang panas, Hanna kerap meminta Michael membacakan sebuah buku. Buku sastra. Dengan senang hati, Michael menjadi seorang pembaca bagi kekasihnya itu yang selalu menyebutnya, "Nak".
Hanna kecanduan. Ia senantiasa menjadi pendengar yang baik bagi setiap cerita yang dibacakan pacar kecilnya itu. Bahkan tak jarang kisah-kisah itu melarutkan perasaannya; membuatnya menangis dan atau tertawa. Melalui buku-buku yang dibacakannya - dari Huckleberry Finn , The Odyssey, hingga Tintin - Michael telah membukakan cakrawala baru bagi Hanna. Dari sekian banyak buku, ada satu yang sangat berkesan baginya, yaitu The Lady with the Dog, karya Anton Chekov. Kelak, buku inilah yang membawa pencerahan bagi Hanna.
Sayang, hubungan asmara mereka harus berakhir. Hanna pergi entah ke mana. Michael baru menjumpainya kembali delapan tahun kemudian (1966) di sebuah pengadilan enam orang bekas anggota SS yang bertugas di kamp konsentrasi Auschwitz semasa pemerintahan diktator Hitler. Michael yang waktu itu telah menjadi siswa Heidelberg Law School, tak menyangka sama sekali bahwa ternyata salah seorang terdakwanya adalah Hanna Schmitz. Bahkan, mantan kekasihnya itu menjadi tertuduh paling berat.
Inilah bagian yang mengungkap riwayat hidup Hanna Schmitz. Bagian yang menjadi inti cerita gubahan Bernhard Schlink (terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Der Vorleser, pada 1995) ini. Buatku, inilah bagian paling mengharukan. Kita akhirnya tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpenampilan dingin dan keras itu. Di sini pula kita menikmati permainan watak Kate Winslet yang keren itu. Empat bintang untuknya. Adegan seks yang heboh itu barangkali boleh di-skip dengan alasan apa pun, tetapi tidak untuk yang ini. Anda akan kehilangan arah jika melewatkannya.
Akhirnya, The Reader adalah sebuah film yang memuaskan. Gambar-gambarnya bagus, berhasil menyuguhkan suasana Jerman tempo doeloe. Misalnya, stasiun trem yang suram dan tua, kostum dan tata rias para pemainnya, suasana jalan-jalan di Berlin, mobil, sepeda, dan perabot-perabot rumah tangga. Apik. Pujian khusus untuk make up Kate Winslet yang berangsur-angsur menua. Juga untuk sajian pemandangan desa dan alam pertanian yang indah menjadi sebuah tamasya mata yang menyegarkan.
Sementara itu, peran untuk aktor tampan Ralph Fiennes tidak terlalu menantang, sehingga pria berumur 46 tahun ini tampil standar saja. Demikian pula halnya dengan David Kross. Agak kurang pas sih sebetulnya saat ia menjadi bocah 15 tahun. Ketuaan. Aktor asal Jerman ini sejatinya berumur 19 tahun. Mungkin make up-nya yang kurang sempurna, ya? Tapi bagaimanapun, ia beruntung sekali bisa bersanding dengan aktris sekaliber Kate Winslet. Beradegan panas pula :D
Secara aku masih penasaran dengan adegan-adegan panas di 15 menit pertama yang dilenyapkan itu, sepertinya aku akan menonton ulang film ini lewat DVD. Khusus demi bagian yang raib itu :P ***

| |